Tantangan utama dalam pengembangan CCS/CCUS adalah biaya tinggi, keterbatasan infrastruktur, dan penerimaan publik yang masih rendah. Firera menyebut pendekatan lintas sektor dan kolaborasi multipihak menjadi kunci sukses pengembangan teknologi ini.
Senada dengan itu, Kim Morisson dari CarbonAceh Pte Ltd, menilai dukungan regulasi dari pemerintah Indonesia sangat penting untuk mempercepat komersialisasi CCS. “Kami berterima kasih atas kolaborasi yang dibangun, ini penting untuk implementasi yang cepat,” ujarnya.
Peringatan dari Bappenas: Jangan Hambat EBT
Meski CCS/CCUS menjanjikan, pemerintah diingatkan agar tidak menggunakannya sebagai alasan memperpanjang usia pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis batu bara. Executive Director Indonesia Climate Change Trust Fund Bappenas, Yahya Rachmana Hidayat, menegaskan bahwa CCS harus diterapkan di sektor sulit didekarbonisasi dan bukan sebagai tameng mempertahankan energi kotor.
“Kalau PLTU diperpanjang hanya karena ada CCS, itu justru menghambat EBT. Kita butuh regulasi yang mencegah konflik kepentingan ini,” ujarnya. Saat ini, Bappenas tengah menyusun strategi super green development yang mengintegrasikan EBT, hidrogen, nuklir, dan CCS dalam satu kerangka pembangunan berkelanjutan.
Kesimpulan: Potensi Besar, Tapi Butuh Sinergi
Dengan dukungan regulasi, kerja sama internasional, dan keterlibatan industri, CCS/CCUS di Indonesia memiliki potensi besar untuk menopang transisi energi nasional. Namun, tantangan dari sisi investasi, kebijakan, dan penerimaan publik tetap harus dijawab secara komprehensif. (*)