fin.co.id – Relawan pasangan calon Nasrun Umar-Lia Anggraeni (HNU-LIA) membeberkan lima indikasi kecurangan yang terjadi dalam Pilkada Muara Enim.
Temuan ini langsung disampaikan oleh Ketua Relawan Muara Enim Maju, Arif Hidayatullah, dalam konferensi pers yang digelar pada Selasa, 7 Januari 2024. Kecurangan ini dianggap berpotensi merusak integritas demokrasi di daerah tersebut.
Menurut Arif, ada lima persoalan utama yang menunjukkan adanya manipulasi dalam penyelenggaraan Pilkada Muara Enim, di antaranya:
1. Formulir Undangan Pemilih yang Tidak Dikirimkan
Banyak pemilih yang tidak menerima formulir undangan, padahal ini menjadi hak mereka untuk memilih.
2. Ketidaksesuaian Data DPT
Nama-nama dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) banyak yang tidak sesuai dengan kenyataan, memunculkan potensi pemilih fiktif atau suara yang hilang.
3. Ketidaksesuaian Antara Form C1 dan Rekapitulasi Suara
Formulir C1 yang mencatat hasil perhitungan suara di TPS ternyata tidak sejalan dengan rekapitulasi di tingkat kecamatan, menambah kecurigaan atas ketidakakuratan hasil.
4. Pelanggaran Politik Uang
Baca Juga
Isu politik uang atau money politics juga mencuat, dengan dugaan adanya pihak yang terang-terangan melakukan pendekatan finansial untuk mengubah pilihan pemilih.
5. Kejadian Mati Lampu yang Tidak Terduga
Insiden pemadaman listrik yang mendadak pada malam pemilihan menambah kontroversi, yang diduga turut mempengaruhi hasil perhitungan suara.
Arif yakin bahwa kecurangan ini telah menyebabkan hilangnya suara signifikan bagi pasangan calon HNU-LIA.
"Kami memiliki bukti kuat bahwa suara kami dicuri dan dipindahkan ke kandidat lain. Padahal, dalam hasil hitung cepat internal kami, Nasrun Umar-Lia Anggraeni unggul," jelasnya.