Beberapa contoh topik lokal, misalnya dari peserta Papua. Seorang peserta adik asuh dari Papua menulis puisi esai mini tentang jembatan merah yang ikonik di Papua Air Mata Kekasihku Jatuh di Pantai Holtekamp. Remaja Papua sering nongkrong di dekat jembatan ini bila sore telah tiba karena tempatnya dinilai indah.
Peserta dari Aceh masih ada yang menulis puisi esai yang ceritanya dari masa lalu, seperti Gerakan Aceh Merdeka, atau tentang tsunami, atau tentang pelaksanaan hukum agama, dan lainnya.
“Saya senang membaca puisi esai mereka karena penulis yang hampir semuanya berasal dari generasi baru itu berhasil menampilkan hal yang berbeda dari puisi esai lainnya,” kata Denny JA setelah mencermati hasil karya penulis yang baru pertama kali menulis puisi esai itu. Mereka menulis puisi esai di bawah bimbingan seorang kakak asuh.
Menjadi kakak asuh bukan perkara yang gampang pula. Mereka harus melalui seleksi yang dilakukan sendiri oleh penggagas puisi esai Denny JA, dan tentu saja sudah pernah menulis puisi esai. Namun begitu, mereka harus menulis satu puisi esai mini terbaru, dan diserahkan ke penggagas puisi esai untuk diperiksa. Setelah beberapa kali bolak balik, puisi esai tersebut diterima, dan dijadikan salah satu contoh puisi esai mini untuk peserta, yang disebut adik asuh. Tentu saja puisi esai yang ditulis oleh Denny JA juga menjadi contoh bagi peserta pelatihan.
Festival Puisi Esai Jakarta ke-2 berlangsung di Taman Ismail Marzuki, tanggal 13 dan 14 Desember 2024. Tema besar Festival kali ini adalah
Baca Juga
“Kesaksian Generasi Baru. Peserta Festival ini akan datang dari Aceh hingga Papua. Termasuk 11 Gen Z yang dinobatkan sebagai Duta Puisi Esai untuk ditempat di daerah asal mereka masing-masing. Selain penyerahan Puisi Esai Award, di festival ini juga diselenggarakan diskusi dengan berbagai tema, pemutaran film puisi esai, dan pembacaan puisi esai