Anak Bunuh Ayah dan Nenek Tidak Bisa Membedakan Mana yang Nyata

fin.co.id - 07/12/2024, 18:31 WIB

Anak Bunuh Ayah dan Nenek Tidak Bisa Membedakan Mana yang Nyata

Anak insial MAS (14 tahun) yang membunuh ayah APW (40 tahun) dan neneknya RM (69 tahun) di Lebak Bulus diduga mengalami halusinasi berupa bisikan ghaib.

fin.co.id - Anak insial MAS (14 tahun) yang membunuh ayah APW (40 tahun) dan neneknya RM (69 tahun) di Lebak Bulus diduga mengalami halusinasi berupa bisikan ghaib.

Bisikan ghaib ini juga membuatnya menyerang sang ibu AP (40 tahun) hingga terluka dan dirawat di rumah sakit.

"Interogasi awalnya dia merasa dia tidak bisa tidur, terus ada hal yang membisiki dia lah, meresahkan dia, seperti itu," kata Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan AKBP Gogo Galesbung, Senin, 2 Desember 2024.

Psikiater RSJ Marzoeki Mahdi Bogor dr Lahargo Kembaren, SpKJ menjelaskan, bisikan yang didengar tanpa ada sumbernya ini dikenal dengan halusinasi.

"Ini adalah gejala gangguan jiwa yang ditandai dengan gangguan persepsi pancaindra tanpa ada stimulus yang terjadi," terang Lahargo kepada Disway, 7 Desember 2024.

Adanya halusinasi ini, lanjutnya, menunjukkan bahwa yang bersangkutan mengalami gangugan psikosis atau sulit membedakan mana yang nyata dan tidak nyata.

"Psikosis adalah gangguan jiwa yang ditandai dengan ketidakmampuan seseorang untuk membedakan mana yang nyata dan tidak nyata," paparnya.

Kondisi ini ditandai dengan beberapa gehala, mulai dari halusinasi pada pancaindra, seperti melihat bayangan, mendengar suara bisikan, mencium bau-bauan, merasa ada sesuatu di kulit dan lidah yang sebenarnya tidak ada.

Delusi atau waham yang merupakan keyakinan, pikiran, dan presepsi yang salah terhadap sesuatu hal yang tidak sesuai dengan kenyataan.

"Seperti merasa ada yang mengejar-kejar, memperhatikan, berniat jahat, merasa diomongin, dan dijauhi teman-teman, atau merasa punya kekuatan tertentu."

Gejala berikutnya adalah gangguan perilaku, seperti menarik diri dari lingkungan sosial, gangguan tidur dan makan, sulit mengerjakan hal-hal yang sebelumnya mudah dilakukan, serta gerakan menjadi lambat atau sebaliknya, dan terlihat gelisah.

"Perubahan mood (cemas, sedih, khawatir berlebihan), pikiran (sering curiga, sulit fokus dan berkonsentrasi, banyak bengong), dan pembicaraan (berbicara berulang-ulang, malas bicara, ngomong tidak nyambung)," tambahnya.

Dijelaskannya, penyebab dari gangguan psikosis ini akibat adanya gangguan keseimbangan zat kimia di dalam saraf otak.

"Gangguan keseimbangan ini bisa bisa terjadi bila ada kelelahan fisik dan psikis disertai kapasitas mental yang kurang baik.

Beberapa faktor yang mempengaruhi mulai dari genetik, stres, penggunaan narkotika/napza, benturan di kepala, hingga perubahan hormon pada wanita yang mengandung dan melahirkan. (Ann)

Khanif Lutfi
Penulis