Denny JA: Inspirasi Perlawanan dari Peristiwa Karbala

fin.co.id - 24/08/2024, 22:55 WIB

Denny JA: Inspirasi Perlawanan dari Peristiwa Karbala

Denny JA: Inspirasi Perlawanan dari Peristiwa Karbala

Kini di tahun 2021, bentuk diskriminasinya dan persekusinya diukur secara lebih bervariasi lagi. Lembaga seperti Pew Research Center ini membagi dua bentuk persekusi dan diskriminasi yang ada. Pertama, yang dilakukan oleh pemerintah, yang disebut Government Restriction, dan kedua, yang dilakukan oleh masyarakat sendiri, yang disebut Social Hostility atau permusuhan yang dilakukan oleh masyarakat.

Pada tahun 2021, Government Restriction, pembatasan dan diskriminasi yang dilakukan pemerintah, terjadi di 57 negara. Sementara, Social Hostility atau permusuhan sosial terjadi di 91 negara. Kita lihat di sini bahwa ternyata memang jumlah permusuhan sosial terjadi di lebih banyak negara.

Pemerintah yang melakukan diskriminasi dan pembatasan hanya di 57 negara, tetapi Social Hostility terjadi di 91 negara. Jadi, kadang-kadang kita mengalami satu persekusi, diskriminasi, dan kekerasan lebih banyak datang dari masyarakatnya sendiri.

Riset ini juga mencoba mengeksplorasi karakter negara yang melakukan diskriminasi. Data menunjukkan bahwa diskriminasi lebih banyak terjadi di negara-negara non-demokratis, karena di negara demokratis, kultur mengenai persamaan warga negara dan hak asasi manusia lebih dihargai.

Diskriminasi ini juga lebih banyak terjadi di negara yang rata-rata pendidikannya lebih rendah, karena semakin tinggi pendidikan, semakin tinggi pula eksposur terhadap keberagaman dan hak asasi manusia. Juga lebih banyak terjadi di negara-negara yang miskin secara ekonomi, karena semakin kaya negara tersebut, biasanya semakin tinggi pula tingkat pendidikan dan eksposur terhadap kosmopolitanisme dunia serta hak asasi manusia.

Di sini kita melihat bahwa sikap yang menganggap mereka yang berbeda secara iman juga adalah saudara dalam kemanusiaan, tidak hanya dijamin oleh pribadi yang meyakininya, tetapi juga lebih dijamin oleh negara yang lebih demokratis, negara yang memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi, dan negara yang lebih kaya secara ekonomi.

Dengan demikian, jika kita mengharapkan satu masyarakat yang lebih menghargai hak asasi manusia dan perbedaan agama, maka kita perlu mendorong lebih banyak pemimpin yang mengapresiasi hal tersebut. Kita juga perlu mendorong negara kita untuk menjadi lebih demokratis, meningkatkan akses pendidikan tinggi, dan memperkaya negara kita secara ekonomi.

Itulah cara kita membaca data statistik. Di Indonesia sendiri, persekusi masih sering terjadi, bahkan setelah reformasi. Ini berita di tahun 2023 yang membuat kita terluka membacanya, kisah di Sampang. Diberitakan bahwa ratusan penganut Syiah bisa kembali ke Sampang pada tahun 2023, sebelas tahun setelah diusir dari tanah kelahirannya sendiri pada tahun 2012. Mereka dipaksa pergi hanya karena mereka meyakini ajaran Syiah.

Kini, sebelas tahun kemudian, mereka hanya boleh kembali jika meninggalkan keyakinan Syiahnya. Sebagian besar dari mereka menerima syarat itu dan kembali ke Sampang setelah meninggalkan keyakinan Syiah.

Ini adalah contoh di negara kita sendiri, betapa memilih satu keyakinan sesuai hati nurani—yang kebetulan Syiah—berisiko diusir dari tanah kelahirannya sendiri. Ini tidak hanya terjadi pada Syiah, tetapi juga terjadi pada Ahmadiyah.

Teman-teman Ahmadiyah diusir dari Mataram pada tahun 2001 dan dipaksa hidup di pengungsian. Kini, pada tahun 2024, 23 tahun sudah berlalu, sebagian dari mereka masih hidup di pengungsian karena menolak pindah agama.

Bahkan, sebagian menyatakan, "Bapak Ibu sekalian, jika kalian tidak bisa menerima kami dan keyakinan kami, maka kuburlah kami hidup-hidup."

Ini juga menjadi judul buku yang dibuat oleh Saudara Anik, yang terpana ketika menyaksikan bagaimana teman-teman Ahmadiyah bertahan untuk tidak dipaksa pindah agama. Forum Esoterica dibangun dengan semangat yang berbeda, dengan semangat mewarisi spirit Saidina Ali bahwa semua warga negara Indonesia, bahkan juga di luar Indonesia, walaupun mereka bukan seiman, mereka adalah saudara dalam kemanusiaan. Oleh karena itu, di Esoterika, hampir setiap bulan kita berjumpa untuk merayakan hari-hari besar agama dan kepercayaan yang tumbuh di Indonesia. 

Kita meyakini bahwa semua agama dan kepercayaan adalah warisan kultural milik kita bersama. Bagi yang meyakini satu agama itu sebagai wahyu, kita hormati. Bagi yang tidak meyakininya, agama tetap kita anggap sebagai warisan kultural yang berharga untuk kemanusiaan kita.

Oleh karena itu, kita merayakannya sebagai social gathering. Satu hari agama yang suci bagi penganut agama lain, walaupun kita tidak meyakininya, tetap kita rayakan bersama, bukan ritusnya, tapi sebagai social gathering, karena itu mengakrabkan kita sebagai warga negara.

Khanif Lutfi
Khanif Lutfi
Penulis

Penulis FIN.CO.ID