"Bukan hanya sekadar berdarma wisata, rekreasi, berbahagia, tapi tidak ada proses pembelajaran," tuturnya.
Ia kembali menekankan bahwa proses perencanaan harus disetujui oleh pihak terkait sehingga menjadi kegiatan resmi yang dapat dipantau dan dipertanggungjawabkan.
Jika memang tujuannya untuk studi, lanjut Feri, harus direncanakan sejak awal dan dimasukkan dalam biaya sekolah.
"Kalau di perguruan tinggi kita ada studi lapangan yang masuk dalam UKT pembiayaannya. Kalau memang mau dilaksanakan harus masuk dalam penganggaran jadi tidak memberatkan orang tua," tandasnya.
Dari sisi orang tua, pihak sekolah harus bisa memberikan rasa aman.
Terlebih, kegiatan study tour memakan waktu hingga menginap di kota lain.
"Karena memang banyak orang tua yang cukup berat jika bepergian jauh, apalagi sampai menginap beberapa hari," lanjutnya.
Anehnya, anak yang tidak turut dalam kegiatan tetap dimintai kontribusi sehingga menjadi beban tersendiri.
- Annisa Amalia Zahro -