"Di Jatim ndasmu sudah kasar, meski level kita di Jatim yang kalau di Jateng kita sebut sirah tapi kan sama tetap disentuh saja tak boleh,” kata alumnus Doktoral Komunikasi Universitas Padjajaran ini.
Menurut dia bagi orang Jawa, ndas tak bisa dipermainkan secara sembarangan. “Alasan orang Jawa itu yang disentuh dulu pas lahir,” tegasnya.
Masih kata Abror di Jatim sebutan ndas biasa karena di dalam komunikasi budaya disebut kultur high konteks namanya.
“Kalau orang konteks tinggi bahasa tidak langsung seperti Jateng high konteks kalau Jatim low konteks. Artinya konteksnya rendah, artinya kalau sesama teman biasa. Tapi kalau untuk orang lain yang tidak sepadan tak sopan,” bebernya. (*)