Putra almarhum Mayjen TNI (Purn) Theo Syafei ini menegaskan tahu siapa yang memasang baliho-baliho PSI bergambar Kaesang anak bungsu Jokowi tersebut.
"Kalau misalnya PSI menunjukkan iya kami punya relawan sampai anak-anak ranting yang kekuatannya melebihi PDIP sebagai partai nomor 1 ya jempol. Tapi begitu tiba-tiba bukan, kita tahu persis siapa yang masang. Nah ini abuse of power," tukasnya.
Andi Widjajanto yang pernah jadi orang dekat Jokowi ini juga menyindir PSI yang dinilainya masih menggunakan pola-pola lama. Padahal, klaimnya partainya anak muda.
"Ini partai anak muda. Tapi caranya kok kuno banget. Jadul banget. Ini mudanya dimana," papar Andi Widjajanto.
BACA JUGA:
- Di Depan Giring dan Kaesang PSI, Emak-Emak Tegas Ngaku Pilih Anies Baswedan Demi Perubahan
- Kaesang Pangarep Ogah Ikut Campur Urusan Gibran dengan PDIP
Jokowi Sutradara Sekaligus Produser Drakor
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut politik tanah air saat ini diwarnai drakor (drama korea) atau sinetron. Eks Gubernur Lemhanas Andi Widjajanto menegaskan dalam drama tersebut Presiden sebagai sutradara sekaligus produsernya.
Menurut Andi Widjajanto saat ini telah terjadi mendung demokrasi di Indonesia. Ini terjadi karena adanya barikade yang dipasang untuk menghambat demokrasi.
"Biasanya kan barikade itu darang dari negara luar. Misalnya tidak suka Indonesia maju. Nah ini gak. Barikadenya datang dari kita sendiri dari dalam ntuk menghambat demokrasi itu," kata Andi Widjajanto seperti dikutip fin.co.id dari Chanel Youtube Abraham Samad Speak UP berjudul Bocoran Rahasia Ancaman Bahaya Di Pilpres, Jika Politik Dinasti Gibran Jokowi Diteruskan pada Rabu, 8 November 2023.
Barikade yang dimaksud Andi Widjajanto adalah dinasti abuse of power yang dilakukan oleh keluarga presiden. "Baik presidennya, paman, anak, adik. Kita merasa ada itu," imbuhnya.
BACA JUGA:
- Masuk Tahun Politik, Jokowi: Akhir-Akhir Ini yang Kita Lihat Terlalu Banyak Dramanya
- Denny Siregar Ungkap Hal Mengerikan yang akan Dirasakan Jokowi Setelah Tidak Lagi Berkuasa

Media Jerman Handelsblatt yang mengkritik Jokowi Gibran Abschied von der Demokratie - Selamat Tinggal Demokrasi-fin - Handelsblatt -
Agar hal itu normal dan tidak terjadi peristiwa seperti tahun 1997 atau 1998, barikadenya harus diangkat. Yang bisa mengangkat barikade tersebut adalah presiden Jokowi.