Catatan Dahlan Iskan . 02/09/2023, 07:38 WIB
Tapi setelah bus besar ke Prabowo, Muhaimin tidak punya nilai tawar lagi. Muhaimin bukanlah politisi picisan. Otaknya lebih panjang dari ukuran tubuhnya. Ia tahu Anies lagi butuh kemenangan di Jatim. Butuh banget. Anies yakin bisa menang di Jabar. Kalau Jatim bisa di tangan peluangnya sangat besar.
Tidak takut dipanggil aparat hukum soal kardus durian?
Tentu Muhaimin sudah berhitung. Saksi kunci di kejadian itu sudah lama meninggal dunia. Yakni politisi dari Lumajang, Jatim itu. Begitu licin manuver Muhaimin. Dari satu koalisi ke koalisi yang lain.
Sisi menarik pasangan ini: akhirnya seorang habib keturunan Ba Alawy berpasangan dengan Gus yang keturunan Wali Songo.
Bisa jadi pasangan Anies-Muhaimin ini sekaligus akan mengakhiri debat tak berkesudahan antara keturunan Nabi Muhammad lewat Habib dari Ba Alawy dengan keturunan Nabi Muhammad lewat Gus keturunan Wali Songo.
Atau tambah seru: tambah politisi yang bisa manas-manasi.(Dahlan Iskan)
Entah dari mana Pak DI mendapat hitungan cadangan nikel yang kualitas baik hanya cukup untuk 6 tahun itu. Menurut US Geological Survey, cadangan nikel kita ada 21 juta metrik ton (MT). Tentu ini yang kualitas baik atau yang disebut "saprolite nickel", karena bila ditambah dengan yang kualitas rendah (limonite nickel) cadangan kita ada 72 juta MT. Memang cadangan 21 juta MT itu bisa habis dalam 6 tahun bila produksi nikel kita 3,5juta MT/tahun. Tetapi per 2022 kemarin produksi nikel kita "hanya" 1,6 juta MT. Dengan asumsi untuk tahun-tahun mendatang produksi maksimum 2 juta MT, masih cukup untuk 10 tahun. Kalau dipertahankan seperti tahun 2022, 1,6 juta MT, cukup untuk 13 tahun. Memang dalam hal memproduksi nikel Indonesia ini sangat rakus. Lihatlah data 9 negara dengan cadangan nikel terbesar dan produksinya per tahun (2022) berikut ini: 1. Indonesia: 21 juta MT, produksi 1,6 juta MT. 2. Australia: 20 juta MT, produksi 160rb MT. 3. Brazil: 16 juta MT, produksi 83rb MT. 4. Rusia: 7,5 juta MT, produksi 220rb MT. 5. Kaledonia baru: 7,1 juta MT, produksi 190rb MT. 6. Filippina: 4,8 juta MT, produksi 330rb MT. 7. Kanada: 2,2 juta MT, produksi 130rb MT. 8. Tiongkok: 2,1 nuta MT, produksi 110rb MT. 9. AS: 370rb MT, produksi 18rb MT. Memang data tentang cadangan nikel itu sebatas yang sudah diketahui. Yang belum diketahui mungkin masih banyak. Tetapi alangkah baiknya bila ada pembatasan produksi. Jangan aji mumpung. Tak perlu ada pembangunan smelter lagi.
Negara tanpa sumber daya bisa banyak duit contoh Jepang. Singapura. Waktu krisis ekonomi 2008 Singapura membobol "sedikit" tabungan nya 4 milyar SGd. Waktu covid melanda lagi lagi membobol tabungan 40 milyar SGD. Ternyata tabungan nya banyak dan konon masih tebal untuk beberapa krisis ekonomi ke depan. Itulah bangsa yg rajin menabung. Beda sama Argentina yg tak punya tabungan tebal. Srilangka.Pakistan pun sama habis tabungan nya. Argentina minta ke IMF. Tentu dikerjain dengan SK yg rumit. Pakistan lari ke Saudi A.minta infus . Venezuela kurang apa? Minyak nya salah satu yg terbanyak di dunia. Tetap miskin. Tiongkok sama Impor minyak dan Gas alam nya gede banget terbesar di dunia tapi Dompetnya selalu Di Top Up terus menerus karena mereka adalah pabrik dunia. Semua Hp.Mobil. dll ke depan akan banyak made in China. Jadikan saja basis industri , maka Indonesia akan lolos dari nasib seperti Argentina.Venezuel.
Ketika Kayu Kalimantan menjadi raja. Raja bagi pemilik perusahaan pemilik HPH. Semua lupa, kalau itu akan habis. Istilah TEBANG PILIH zaman Si Mbah Mesem: pilih yang besar dulu, besar habis yang kecilpun dibabat habis. Penanaman kembali diganti "Pohon Akasia". Mau lihat buktinya sepanjang Balikpapan-Samarinda menyisakan hutan buatan pohon akasia. Dekat IKN ada nama Bukit Soeharto, sampai orang Kal Tim bilang "Soeharto bukit" mungkin Abah tahu artinya. Sawah Sejuta Hektar di Kal Teng yang hanya akal-akalan. Mana bisa ditanami padi tanah gambut yang kerendam air Sungai Barito sepanjang tahun?. Kayu habis muncul Batu Bara, dieksplorasi habis habisan hingga kini. Mau lihat tinggalannya cobalah terbang pakai pesawat kecil dari Balikpapan ke arah Samarinda, Balikpapan ke Arah Berau, Balikpapan ke arah Sangata, Samarinda ke arah Melak, Batu Kajang ke Arah Kab.Tabalong, Kab. Tabalong ke Arah Kab. Balangan, Kab. Hulu Sungai Tengah ke Arah Binuang, dan daerah Sungai Danau sampai Batu Licin, pemandangan yang sangat - sangat miris adalah tinggalan hutan gundul dan lubang bekas tambang yang disebut "Danau". Benar-benar DANAU yang sangat BESAR. Pemerintah harusnya tidak hanya fokus ke pendapatan pajak, tetapi harus dibarengi dengan pengawasan ketat. Namun raja-raja kecil muncul dari pemilik IUP dan pengawas daerah maupun pusat yang harusnya bekerja, namun kalau masih ada kong kalikong dan korupsi ya itulah kenyataan yang terjadi. Nikel Sulawesi akan sama nasibnya dengan di daerah Bangka
SDA dikeruk habis hingga cadangan menipis, berujung meringis, mungkin gigit jari juga. Sumber besar devisa zaman dulu berupa deman migas dan non migas (kayu dan sawit). Sekarang migas berganti batu bara, non migas berganti label hilirisasi (nikel, bauksit, emas dsb). Pola berulang dan mirip-mirip saja. Keuntungan besar dalam waktu singkat sekaligus tidak berkelanjutan. Warisan kebijakan "pengerukan" SDA, hasilkan donat devisa sebesar gajah bengkak. Pinggiran donat, untuk investor dan para pembagi kaplingan pengerukan, tengahnya dibagikan bagi para jelata. Berulang-ulang dari rezim ke rezim berikutnya.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id