Sementara itu, Aviliani menyampaikan, sebelum berinvestasi perempuan harus tahu profil risiko yang dapat dihadapi. Selain itu, perempuan juga harus mempersiapkan dana darurat sebelum memulai investasi.
"Ketika mulai berinvestasi, baiknya menyisihkan uang di awal dan bukan sisa dari uang kebutuhan. Dalam memulai investasi perempuan juga harus memiliki tujuan dan perhitungan yang jelas, misalnya dalam lima tahun ke depan, kebutuhan apa saja yang akan muncul," jelas Aviliani.
Menurutnya, dalam berinvestasi biasanya perempuan memilih produk yang imbal hasilnya dapat digunakan kembali atau memiliki jangka pendek. Perempuan disebut lebih memilih investasi berisiko rendah. Namun perempuan saat ini juga telah mulai beranjak ke investasi lain seperti obligasi pemerintah dan deposito.
Head of Deposit & Wealth Management UOB Indonesia Vera Margaret menambahkan, tren investasi yang digandrungi perempuan biasanya yang memiliki jangka pendek dan pendapatan tetap. Beberapa contoh investasi yang diminati perempuan adalah obligasi ritel, sukuk tabungan, sukuk ritel, dan saving bond ritel (SBR).
"Walaupun secara bertahap, nasabah perempuan mulai memasuki investasi yang jangka panjang seperti reksadana saham," jelas Vera.