Naik Sepeda

fin.co.id - 30/07/2023, 06:00 WIB

Naik Sepeda

Kemudian.. Simbok membelikannya dan di saat itulah, untuk pertama kalinya ibu ke sekolah memakai sepatu.  

Saya membayangkan betapa senang dan bangganya mereka berdua, Simbok dan anak wedoknyi. Sungguh bahagia ibu bisa mewujudkan keinginannya bersekolah di Sekolah Kartini. Sekolah yang diimpikannyi. Sekolah yang semua muridnya perempuan, begitu juga para guru dan kepala sekolahnya. "Hanya tukang kebun sekolah yang laki-laki", kata Ibu, mengenang.

[6/27, 01:36] Yani Jkt: 

Seingat Ibu, usia sekolah pada masa itu tidak ditentukan mulai umur 7 tahun, tetapi bisa lebih tua. Maka ketika ibu menyelesaikan SKP-nya ibu merasa sudah cukup dewasa. Beramai-ramai bersama teman-teman seangkatan, ibu mulai melamar pekerjaan. Peluang bekerja di Perum Peruri di Jakarta, tidak direstui Simbok. Simbok tidak ingin anak ragilnya jauh darinya. Djawatan Koperasi di Kebumen, menjadi tujuan ibu selanjutnya. Tidak disangka-sangka, di sanalah ibu bertemu dengan seorang pemuda dewasa yang dengan berani menemui Simbok untuk melamar putrinya. Melihat sosok yang jauh lebih dewasa, Simbok merestui dengan harapan figur ayah untuk putrinya bisa tergantikan. Di tahun 1963 setelah menunggu 6 tahun, lahirlah anak pertama mereka, kakak laki-laki saya. Ibu melahirkan saya pada Oktober 1965, kita semua tahu apa yang terjadi pada waktu itu. Suasana politik sedang panas-panasnya, semua serba kacau. 

Itulah masa -masa sulit, fase pahit getirnya kehidupan yang dilalui ibu. Membawa balita dan bayi mungil, ibu, suami dan mertua perempuan meninggalkan Kebumen menuju Gombong. Rumah dan seisinya ditinggalkan begitu saja, keselamatan lebih penting. Puji Tuhan, setelah  beberapa bulan ditinggalkan ternyata kondisi rumah dan perabotannya tetap utuh, meskipun beberapa rumah di sekitarnya tinggal berupa puing-puing.

Sebagian perabot diangkut ke Gombong, sebagian diberikan kepada tetangga yang mau. Pada tahun 1967 banjir bandang melanda, air setinggi pinggang orang dewasa. Di tengah malam, waduk Sempor jebol, tidak mampu menampung air hujan yang turun terus-menerus, tujuh hari tujuh malam. 

Dua tahun kemudian ibu melahirkan adik perempuan saya pada tahun 1969, dan di  tahun 1975, ibu membawa saya dan adik ke Jakarta, menyusul suami dan anak pertamanya yang lebih dulu merantau.

[7/1, 11:32] Yani Jkt: 

Mohon maaf Bapak, setelah bertemu dengan ibu dan mengkonfirmasi cerita ini, ternyata ada beberapa hal yang perlu saya koreksi sbb: 

1. Sekolah Kepandaian Putri (SKP) seharusnya adalah Sekolah Rakyat Perempuan (SRP), ini setingkat SD. Berikutnya ibu melanjutkan ke SMP PGRI dan mengikuti Pendidikan Guru Taman Kanak-Kanak (PGTK) setelah menikah.                      

2. Ibu memanggil orang tua perempuan bukan dengan sebutan "Simbok" tetapi yang benar adalah " Biyung" Demikian yang perlu saya koreksi. "Rawe-Rawe Rantas, Malang-Malang Putung", ucapan Bung Karno di setiap pidatonya, kembali diserukan ibu dengan penuh semangat. Tak salah jika saya menyimpulkan bahwa ibu adalah seorang  "Soekarnois" sejati.b

Komentar Pilihan Dahlan Iskan di Tulisan Edisi 29 Juli 2023: Sendang Pancuran

Echa Yeni

Masih ada hubunganya dg testyz kamarin Diapit nopo "Kapit" bah..? Spt "sendang kapit pancuran" / mrsV kapit test*$

ahmad faqih

Admin
Admin
Penulis

FIN Biro Karawang Bekasi