
Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi dan Penyakit Tropis Ikatan Dokter Anak Indonesia, Dr. dr. Novie Homenta Rampengan, SpA(K), DTM&H, MCTM (TP).-bikafkunsrat.com-
"Anak-anak senang bergaul akrab dengan binatang sehingga begitu orang tua terkadang kurang perhatian, suatu waktu rentan diserang oleh hewan tersebut," sambungnya.
BACA JUGA:
- 3 Rekomendasi Oli Motor Federal Matic, Usia Pakai Lebih Lama Cocok untuk Jarak Jauh
- Harga Xiaomi Redmi Note 11 Pro Terbaru Juni 2023 Turun Segini, Ponsel Gahar dengan Desain Gagah
Novie menjelaskan, secara teori bila angka GHPR meningkat, maka jumlah kasus anak-anak yang digigit oleh hewan maupun berisiko terpapar rabies, juga ikut meningkat.
Meski demikian sejauh ini, kata Novie, belum ada laporan kasus kematian pada anak-anak.
"Secara umum 40 persen terjadi pada anak-anak, tapi, belum ada laporan kasus kematian," ujar Novie.
Dalam menghadapi penyakit rabies, Pemerintah telah menerapkan strategi eliminasi 'Rabies One Health 2030' dengan target seluruh kabupaten dan kota endemis.
BACA JUGA:
- GB WhatsApp Pro v20.50 Update Juni 2023 Free Download Klik di Sini, Instal Cuma 50 MB!
- Spesifikasi dan Harga Oppo Reno 8 Juni 2023, Ponsel Pintar dengan Segudang Keunggulan
Hingga 2022, capaian strategi ini telah mencapai angka 84 persen kabupaten/kota endemis eliminasi rabies.
Strategi tersebut meliputi empat skema utama yaitu pencegahan, surveilans, penanganan kasus, dan promosi kesehatan.
Skema pencegahan mencakup pengendalian rabies pada faktor risiko (vaksinasi massal hewan penular rabies), profilaksis pra-pajanan pada kelompok masyarakat berisiko tinggi, pemberdayaan masyarakat lewat Tim Siaga Rabies (TISIRA), dan penguatan koordinasi, kolaborasi, serta komunikasi lintas-sektor One Health.
Pada skema surveilans, Pemerintah melakukan integrasi lintas sektor, berbagi informasi hasil laboratorium Kesehatan Hewan kepada sektor Kesehatan Masyarakat, penguatan rencana kesiapsiagaan dan respons wabah, serta penguatan sistem informasi terpadu lintas-sektor.
BACA JUGA: