Akmal Marhali: Nobar Menolak Lupa Piala Dunia U-20, Merawat Ingatan Publik Demi Kemajuan Sepakbola

fin.co.id - 01/06/2023, 10:38 WIB

Akmal Marhali: Nobar Menolak Lupa Piala Dunia U-20, Merawat Ingatan Publik Demi Kemajuan Sepakbola

Lebih lanjut Akmal menyampaikan dengan dipisahkannya urusan sepak bola dan politik bukan berarti melarang para politisi untuk ikut berpartisipasi, melainkan seyogyanya kontribusi dari para elit politik atau pemangku jabatan itu terwujud dalam mendukung prestasi serta kemajuan sepak bola tanah air.

“Bukan berarti para politisi tidak boleh masuk, boleh masuk untuk memberikan dukungan agar masyarakat bisa menikmati apa yang mereka cinta, termasuk memberikan dukungan agar sepak bola kita bisa berprestasi karena itu merupakan kebanggaan buat bangsa kita baik itu dimata internasional maupun di mata masyarakatnya sendiri,” urainya.

Selain itu, Akmal berharap suatu saat Indonesia masih memiliki kesempatan lagi menjadi tuan rumah dalam ajang Piala Dunia terutama kesempatan untuk ikut bidding Piala Dunia U-16 pada November mendatang.

Dikatakan Akmal, jika hal itu kembali diraih Indonesia tentu itu merupakan sejarah dan kebanggaan besar bagi masyarakat dan pecinta sepak bola tanah air, sekaligus pengobat kekecewaan di Piala Dunia U-20.

“Karena itu kita berharap pengurus PSSI yang ada saat ini setelah gagal menjadi tuan rumah piala dunia kita berharap masih bisa untuk melakukan pendekatan kepada FIFA setidaknya kita punya kesempatan untuk bidding menjadi tuan rumah Piala Dunia U-16 yang akan digelar bulan November,” ungkapnya.

“Barang kali ini bisa dilakukan dan ini akan menjadi pengobat kekecewaan masyarakat terhadap batalnya Piala Dunia U-20 yang batal di gelar di Indonesia,” tukas Akmal.

Sementara itu, Ketua Umum PB FAPSI, Amsori Bahruddin Syah mengatakan, kegiatan nobar ini dilakukan untuk memfasilitasi para penggemar sepak bola Indonesia yang ingin menyaksikan kemeriahan Piala Dunia U-20. 

"Ada keinginan besar dari para suporter yang disampaikan ke saya untuk bisa menyaksikan pertandingan Piala Dunia U-20. Ya kita fasilitasi, anggap saja sebagai obat penawar rindu karena kan gagal digelar di Indonesia," ujar Amsori.

"Tema menolak lupa ini sebenarnya reaksi spontanitas para suporter saja, bahwa mereka tidak mau menyembunyikan rasa kecewanya. Itu saja, memang susah kalau sudah menyangkut bola, mendidih darah nasionalisme kita," tambahnya.

Amsori melihat animo masyarakat terhadap gelaran Piala Dunia U-20 sangat besar. Hal itu tercermin dari banyaknya penggemar sepak bola di Indonesia yang tidak ingin melewatkan kesempatan emas tampil bersama pemain timnas kelas dunia. 

Selain itu, Amsori juga menyaksikan langsung usulan dan keinginan dari para suporter untuk menyaksikan pertandingan Piala Dunia U-20, walaupun timnas kebanggaannya tidak tampil. Meskipun harus menonton bareng hingga dini hari. 

"Ya mungkin rasa kecewa itu dalam sekali, makanya kita bisa saksikan ratusan suporter yang hadir di sini, mereka rela mengorbankan rasa lelah dan ngantuknya, agar bisa merasakan kemeriahan Piala Dunia U-20, walaupun mereka sadar tidak ada Indonesia di sana," ungkap Amsori.

Dikatakan Akademisi Universitas Nasional (Unas), saat ini sebenarnya momentum yang tepat bagi kebangkitan sepak bola Indonesia karena mulai tumbuhnya rasa percaya diri, mental dan nyali para pemain timnas. 

Jika Piala Dunia U-20 tetap tampil di Indonesia, kata Amsori, bisa jadi sepak bola Indonesia hadir sebagai kekuatan baru di Asia. 

"Ya, kita hanya bisa berandai. Sepak bola kita lagi bagus-bagusnya, mental dan nyali lagi tumbuh. Itu yang disayangkan, kenapa sampai gagal. Mungkin itu juga yang membuat para pecinta sepakbola menyimpan luka dalam," ucap Amsori.

Admin
Admin
Penulis

Jurnalis profesional sejak 2016 dengan spesialisasi isu Politik, News, dan Lifestyle. Menjabat sebagai Redaktur di FIN.CO.ID sejak 2018, ia juga aktif mengulas perkembangan teknologi terkini. Berdedikasi menyajikan informasi akurat dan kredibel bagi pembaca