Bagi Khairul Anam, program ini membawa banyak manfaat sejak ia menerima sertifikasi RSPO pertamanya pada tahun 2022, yaitu produktivitas kebun yang lebih baik, praktik pengelolaan perkebunan yang lebih baik, pasokan yang konsisten, serta menjadikannya turut terlibat membantu melindungi lingkungan, untuk meningkatkan taraf hidupnya. Keberhasilan fase pertama ini juga telah membantu KKTTPS mendapatkan fasilitas yang lebih baik, yang juga membuat lebih banyak petani swadaya lainnya tertarik untuk bergabung dengan program ini.
Pada tahun 2023, program SMILE telah melewati fase pertama dan sedang menjalani fase kedua sebagai berikut:
1.Fase 1: Sebanyak 238 petani swadaya di Riau telah diaudit pada Februari 2023. Saat ini, para petani swadaya tersebut masih menunggu proses penerbitan sertifikat RSPO.
2.Fase 2:
a.Menargetkan lebih banyak petani swadaya untuk bergabung dengan program SMILE hingga lebih dari 2.300 petani
b.Menargetkan untuk mendukung 1.284 petani swadaya dalam mendapatkan sertifikat RSPO.
“Kolaborasi adalah kunci untuk membangun inklusi petani, oleh karena itu melalui kerja sama yang terjalin melalui program SMILE, kami berupaya untuk meningkatkan taraf hidup petani swadaya di Indonesia. Kami percaya bahwa dengan berkolaborasi, kami dapat membuat perbedaan nyata dalam kehidupan para petani dan keluarga mereka,” ujar Ivan Novrizaldie, Head of Sustainability Asian Agri.
SMILE merupakan bagian dari komitmen keberlanjutan Asian Agri dan Apical; Asian Agri 2030 dan Apical2030,yang mana pada Asian Agri 2030 termasuk dalam pilar 1 Kemitraan dengan Petani yang salah satu targetnya yakni 5.000 petani swadaya mendapatkan sertifikat RSPO, sedangkan pada Apical2030, program SMILE termasuk dalam pilar ke-4 Kemajuan Inklusif yang memiliki target mendukung 5.000 petani swadaya untuk mencapai sertifikasi di tahun 2030.