CIANJUR, FIN.CO.ID - Gempa yang belum lama ini melanda Kabupaten Cianjur dengan kekuatan 5,6 SR pada 21 November 2022 meninggalkan berbagai dampak pada aspek ekonomi, social, pendidikan, pemerintahan dan kesehatan.
Sebanyak 169.124 masyarakat terdampak dan harus di evakuasi ke tempat yang lebih aman.
Hal ini mendorong dibangunnya posko-posko darurat sebagai tempat tinggal sementara dan tempat penyediaan kebutuhan pokok.
BACA JUGA:Jalankan Aktivitas Trauma Healing, Forum Humas BUMN Gelar Nobar untuk Warga Korban Gempa Cianjur
Salah satu kebutuhan pokok yang diperlukan yaitu makanan yang diolah di dapur darurat.
Pengolahan makanan tersebut tentu memerlukan kompor dan bahan bakar yang digunakan pada umumnya untuk memasak yaitu kayu bakar, minyak tanah, dan gas.
Saat ini diketahui bahwa lokasi pengungsian masyarakat tersebar di beberapa titik, salah satunya berada di Kampung Wargaluyu RT 02 RW 11, Desa Nagrak Kecamatan Cianjur.
Permasalahan yang sering dihadapi di lokasi pengungsian adalah sampah dan kesehatan. Produksi sampah berbanding lurus dengan jumlah orang yang berada di lokasi tersebut, sehingga semakin banyak jumlah pengungsi di posko darurat semakin banyak sampah yang dihasilkan.
BACA JUGA:Mensos Risma Ingin Anak-anak Yatim Piatu Gempa Cianjur Punya Cita-cita Tinggi
Lokasi dan pengelolaan sampah yang kurang memadai merupakan tempat yang cocok bagi organisme, lalat dan tikus yang dapat menimbulkan berbagai penyakit sehingga mengganggu kesehatan para pengungsi.
Dan selama tinggal di tempat pengungsian, masyarakat diharapkan untuk tetap disiplin dalam menjaga kesehatan fisik maupun mental terutama di tengah pandemi seperti saat ini.
Melalui Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM), yang mendapatkan dana Insentif pengabdian masyarakat terintegrasi dengan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) berbasis kinerja indikator utama (IKU) oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbudristek Tahun 2022, Universitas Sahid Jakarta (Usahid) menyelenggarakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) tersebut dengan tema “Cianjur Bangkit-Bangun Kemandirian Masyarakat bersama USAHID”.
Tim PKM Usahid memberikan edukasi mengenai “Pemanfaatan Sampah Sebagai Bahan Bakar Kompor Briket dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dalam Kedaruratan Gempa Cianjur” pada tanggal 14-15 Desember 2022, di tempat pengungsian Kampung Wargaluyu, Desa Nagrak.
BACA JUGA:Komunitas Musisi dan Pecinta Alam Tigaraksa Bantu Korban Gempa Bumi Cianjur
Tim PKM diketuai Laila Febrina, ST., M.Si (Dosen Teknik Lingkungan) dengan anggota Almira Nuraelah, S.Gz., M.Si (Dosen Prodi Gizi) dan Endang Wulandari, SE, MM.Ak.CA (Dosen Ekonomi Akutansi), dibantu mahasiswa prodi Teknik lingkungan, Ahmad Ilham, Reynaldi Aprianda, Muhammad Ikbar, dan Tri Arimaryanto.
Peserta yang mengikuti kegiatan edukasi yang dikoordinir oleh Abar Tasyri Amaruloh, SH, para ibu hamil, ibu menyusui, lanjut usia (lansia), dan anak-anak yang tinggal di posko darurat dan Desa Nagrak sendiri ditinggali oleh 90 kepala keluarga.
Tim PKM memberikan edukasi dengan cara yang sederhana menggunakan media poster yang menarik dan bercerita sembari memberikan simulasi agar mudah diserap dan diingat oleh para pengungsi.
Adapun materi yang disampaikan diantaranya bagaimana para pengungsi membiasakan mencuci tangan setiap sebelum dan sehabis makan, sebelum dan setelah buang air dan setelah beraktivitas yang membuat tangan menjadi kotor.
Konsumsi air bersih dan matang meski berada di tengah kondisi bencana karena air yang kotor dapat menjadi sumber berbagai penyakit.
Menjaga tempat pengungsian tetap bersih dengan membuang sampah pada tempatnya dan disiplin menggunakan jamban yang bersih.
Mengkonsumsi makanan bergizi seimbang dikarenakan saat terjadi bencana besar kemungkinan tidak banyak pilihan menu namun pastikan makanan dimasak, dikemas dengan baik dan periksa tanggal kadaluarsa.
Memberikan ASI pada bayi. Apabila ada yang sakit menggunakan masker untuk mencegah penularan. Tidak merokok di tempat pengungsian.
Memanfaatkan pelayanan kesehatan yang tersedia. Tak hanya kesehatan jasmani, kesehatan mental pun perlu diperhatikan, dengan melakukan kegiatan bersama dapat menumbuhkan sikap positif dan melewati masa bencana dengan baik.
Selain itu, Tim PKM menyampaikan juga mengenai proses pengembangan briket melalui pemanfaatan sampah yang ada di lokasi pengungsian bisa menjadi alternatif pengganti minyak, gas dan bahan bakar lainnya, dikarenakan banyaknya bantuan makanan berupa bahan mentah, namun tidak bisa memasak karena kurangnya bahan bakar tersebut.
Tidak hanya memberikan edukasi, Tim PKM Usahid juga mendistribusikan pemberian bantuan berupa kompor yang khusus menggunakan bahan bakar briket untuk pengolahan bahan- bahan makanan di dapur darurat dan juga paket sanitasi kepada warga yang ada di pengungsian untuk dapat dimanfaatkan.
Kepala Desa Nagrak, Hendi Saepul Maladi, SH dan coordinator mitra, Abar Tasyri Amaruloh, SH menyampaikan terimakasih kepada Tim PKM Usahid, LPPM Usahid sebagai coordinator PKM dan Kemenristekdikti yang telah memberikan bantuannya.
Pihaknya berharap dengan adanya kegiatan edukasi pemanfaatan kompor briket,bisa membantu untuk kepentingan dapur di posko bencana Desa Nagrak dalam mengolah kebutuhan pokok, dikarenakan sulitnya memperoleh pasokan gas dan minyak sebagai bahan bakar dan dengan adanya edukasi PHBS seperti ini para pengungsi bisa selalu membiasakan diri hidup lebih sehat dan bersih walaupun dalam kondisi darurat di pengungsian.