Harga minyak jatuh dalam dua pekan terakhir di tengah kekhawatiran resesi meski terjadi penurunan ekspor minyak mentah dan produk olahannya dari Rusia di tengah sanksi Barat dan gangguan pasokan di Libya.
Investor juga berbondong-bondong menuju dolar, sering dilihat sebagai aset safe-haven. Indeks Dolar (Indeks DXY) mencapai level tertinggi 20 tahun, Rabu, membuat harga minyak lebih mahal bagi pembeli non-AS, tetapi sedikit mundur pada sesi Kamis.
"Indikator teknikal menunjukkan putaran terendah yang baru karena dolar AS terus mendominasi dalam mendorong arah harga minyak," kata Jim Ritterbusch, Presiden Ritterbusch and Associates LLC di Galena, Illinois.
(BACA JUGA:Harga Emas Antam 14 Juli 2022 Naik, Harganya Per Gram Jadi Segini)
Di Eropa, sinyal juga bearish untuk permintaan dengan Komisi Eropa memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi dan menaikkan ekspektasi tingkat inflasi menjadi 7,6 persen.
Kekhawatiran pembatasan Covid-19 di beberapa kota di China untuk mengendalikan kasus baru dari subvarian yang sangat menular juga membatasi harga minyak.
Impor minyak mentah harian China sepanjang Juni merosot ke level terendah sejak Juli 2018, karena penyuling mengantisipasi langkah-langkah penguncian untuk mengekang permintaan, menurut data bea cukai, Rabu.
Data dari Badan Informasi Energi Amerika juga menunjukkan perlambatan permintaan, dengan pasokan produk menyusut jadi 18,7 juta barel per hari, tingkat terendah sejak Juni 2021. Persediaan minyak mentah naik, didukung pelepasan dalam jumlah besar lainnya dari cadangan strategis.
(BACA JUGA:Harga Emas 14 Juli 2022 Rebound Dari Level Terendah Satu Tahun, Ini Penyebabnya)