Nasional

Sesepuh Betawi Berkumpul, Bahas Nasib DKI Jakarta Setelah Tidak Jadi Ibu Kota Negara

fin.co.id - 27/02/2022, 09:56 WIB

Miniatur Monas dibuat dengan limbah kertas yang menjadi simbol DKI Jakarta.

JAKARTA, FIN.CO.ID - Sejumlah sesepuh Betawi bertemu untuk membahas nasib Jakarta ke depan, setelah tidak menjadi Ibu Kota Negara (IKN).

Pertemuan sesepuh Betawi yang membahas Jakarta tersebut diinisiasi Anggota DPD RI Dailami Firdaus. 

Tokoh dan sesepuh Betawi yang hadir dalam pertemuan itu yakni Eddie Marzuki Nalapraya, Nuri Tahir, Abdul Syukur, Margani M Mustar, Hasbullah Thabrani.

(BACA JUGA: Usul Penundaan Pemilu 2024, Muhaimin Iskandar Bilang Disetujui Banyak Orang)

Kemudian hadir Azis Khafia, Biem T. Benyamin S, Becky Mardani, Yusuf Aman, Zaenudin MH dan Husni Hasanudin.

"Saya sangat mengapresiasi dan menyampaikan terima kasih atas semua masukan dan arahan yang diberikan," katanya, Minggu, 27 Februari 2022. 

Pria yang akrab disapa Bang Dai itu mengatakan, salah satu poin penting dalam pertemuan tersebut adalah menampung masukan dan arahan sesepuh Betawi.

(BACA JUGA: BPJS Jadi Syarat Jual Beli Tanah, DPR: Bisa Jadi yang Jual Tanah Sedang Kesulitan Keuangan)

Hal itu, terutama dalam konteks revisi Undang Undang Nomor 29 Tahun 2007 tentang Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dailami menjelaskan, masukan yang disampaikan di antaranya terkait pentingnya hak istimewa Betawi ke depan.

Dalam konteks itulah diperlukan satu majelis adat yang kuat dan representatif di Jakarta.

"Mengacu pada konsep trisula pemerintahan daerah istimewa atau khusus, di Aceh itu ada yang disebut Wali Nangroe dan di Papua ada Majelis Rakyat Papua, selain adanya Eksekutif, Legislatif," ujar Dailami.

Dia menambahkan sesepuh Betawi Eddie Marzuki Nalapraya dan Nuri Tahir sepakat terkait perlunya satu majelis adat Betawi yang masuk dalam Rancangan Revisi Undang Undang Nomor 29 Tahun 2007.

Dalam pertemuan tersebut, Nuri Tahir juga meminta kesediaan Dailami Firdaus untuk menjadi perantara digelarnya musyawarah bersama seluruh potensi Betawi karena cucu Kyai Abdullah Syafii ini dikenal luwes dan dapat diterima semua pihak.

"Betawi memiliki nilai-nilai kearifan yang harus dimasukkan dalam semangat Undang Undang Jakarta ke depan," katanya. 

Admin
Penulis
-->