News

Tragedi Pompom

Banyak parade yang sekaligus dimaksudkan untuk menyambut hari Natal. Terutama di kota kecil seperti di Waukesha itu: Christmas Holiday Parade Sunday. Karena itu paradenya lebih awal: hari Minggu kemarin.

Yang paling istimewa tentu di New York. Nanti sore balon-balon raksasa dipompa. Balon itu berbentuk aneka tokoh film kartun. Yang akan diarak di sepanjang rute. Pemompaan ini saja sudah jadi tontonan turun.

Belum lagi Kamis keesokan harinya: itulah puncak parade Thanksgiving. Berbagai atraksi spektakuler tampil di jalan raya. Kakek Mirza  pasti sering menontonnya secara langsung. Saya baru sekali.

Terkagum-kagum. Serba spektakuler. Sambil ingat karnaval di desa saya. Yang dulu selalu saya ikuti. Setiap tahun baru 1 Muharam. Hanya pakai sarung dan kopiah.

Tahun lalu, di puncak pandemi Covid-19, parade di New York itu tetap dilaksanakan: secara
virtual. Untuk kali yang pertama dalam sejarahnya.

Tahun ini, Kamis besok, jadi ajang balas dendam: dibuat sangat meriah. Bisa dilihat secara live.

Tahun ini liburan Thanksgiving, satu minggu, juga jadi ajang balas dendam: mudik. Jalan-jalan raya ke luar kota besar padat merayap. Si sana bebas. Mudik boleh. Pulang kampung tidak dilarang.

Mereka akan pesta di rumah orang tua masing-masing. Menu utamanya: kalkun panggang. Saya pernah sekali ikut pesta seperti itu di sebuah rumah tangga di sebuah desa di New Jersey.

Setelah makan, yang wanita tetap ngerumpi di sekitar meja makan. Yang laki-laki nonton football.

Orang Waukesha —nama kota ini diambil dari nama kepala suku Indian yang menghuni wilayah itu sebelum tahun 1834— tentu akan melewati hari Thanksgiving dengan penuh duka.

Kota ini hanya berpenduduk 90.000 orang. Biasanya sangat damai. Mayoritas penduduknya Katolik.
Dari fotonya, pengemudi mobil merah itu, bukan keturunan Arab. Ia seorang kulit hitam. Tatanan rambutnya: banyak kepang.

Menyasar parade ini adalah puncak kenakalannya. Ia sudah sering berbuat onar: mengetuk pintu kamar hotel, menabrak orang dari belakang, melakukan kekerasan, dan sejenisnya.

Seminggu sebelum parade ini pun ia baru dibebaskan dari perbuatan kriminal dengan cara membayar uang jaminan.

Berkali-kali ia ditangkap polisi. Selalu saja bebas karena uang jaminan. Kali ini tidak akan ada lagi uang jaminan seperti itu. Ia menghadapi ancaman hukuman seumur hidup.

Sulit mencari tahu apa motif Darrell menyasar parade itu. Tidak ada orang yang ia kenal di situ. Darrell juga bukan aktivis pembela kulit hitam. Terlalu dicari-cari kalau dihubungkan dengan vonis bebas untuk remaja kulit putih yang terjadi sehari sebelumnya.

Berita Terkait