News . 15/11/2021, 16:33 WIB

Rupiah Ditutup Menguat, Imbas The Fed Kirim Sinyal Tak Buru-Buru Naikkan Suku Bunga

Penulis : Admin
Editor : Admin

  JAKARTA - Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada hari ini, Senin (15/11/2021), di tengah sinyal bahwa Federal Reserve (The Fed) tidak terburu buru menaikkan suku bunga acuan meski laju inflasi Amerika Serikat sangat tinggi, ditambah neraca perdagangan Indonesia pada Oktober yang kembali mencatat surplus 18 bulan beruntun. Mengutip data Bloomberg, pukul 15.00 WIB, kurs rupiah akhirnya ditutup pada level Rp14.201 per dolar AS. Posisi tersebut menunjukkan penguatan 19 poin atau 0,12 persen apabila dibandingkan dengan posisi penutupan pasar spot pada Jumat (12/11/2021) di level Rp14.219 per dolar AS. Sementara kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang menempatkan rupiah di posisi Rp14.206 per dolar AS atau menguat dari sebelumnya, yakni Rp14.243 per dolar AS. Direktur PT. TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi, mengatakan, rupiah menguat karena dolar AS melemah pada hari senin. Penyebabnya adalah investor sekarang menunggu petunjuk selanjutnya tentang status pemulihan ekonomi AS dari Covid 19 setelah muncul spekulasi kenaikan suku bunga The Fed setelah selama minggu lalu data inflasi AS terus meroket. "Meningkatnya tekanan inflasi memang terus menjadi perhatian investor. Tetapi Presiden Federal Reserve Bank of Minneapolis Neel Kashkari mengatakan pada hari Minggu bahwa meskipun ia memperkirakan inflasi yang lebih tinggi akan berlanjut selama beberapa bulan kedepan, Fed tidak boleh bereaksi berlebihan terhadap peningkatan inflasi karena kemungkinan bersifat sementara," kata Ibrahim dalam keterangan hasil risetnya, Senin sore. BACA JUGA: Harga Emas Tergelincir, Investor Menanti Mencermati Arah kebijakan The Fed Terkait Inflasi Sementara itu, Menteri Keuangan AS Janet Yellen menambahkan bahwa pengendalian COVID-19 di AS akan sangat penting untuk mengurangi tekanan inflasi. AS juga merilis data penjualan ritel pada hari Selasa (16/11/2021). Dari dalam negeri, pelaku pasar merespons positif setelah Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data Neraca Perdaganagn Indonesia (NPI) mengalami surplus sebesar USD5,73 miliar secara bulanan (month to month/mtm) pada Oktober 2021. Realisasi itu lebih tinggi dibandingkan surplus USD4,37 miliar pada September 2021 dan Oktober 2020 yang tercatat surplus USD3 miliar. "Surplus terjadi karena nilai ekspor mencapai USD22,03 miliar pada Oktober 2021. Sementara, nilai impor lebih kecil dibandingkan ekspor, yaitu US$17,23 miliar. Tercatat, Indonesia mengalami surplus berturut-turut selama 18 bulan," pungkas Ibrahim. Sedangkan untuk perdagangan besok, Ibrahim memperkirakan bahwa mata uang rupiah kemungkinan  dibuka  berfluktuatif, namun  ditutup menguat  di rentang   Rp14.180 - Rp14.220 per dolar AS. (git/fin)

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id