News

Fadli Zon: Menag Yaqut Gegabah Memelintirkan Istilah Populisme Islam

fin.co.id - 30/12/2020, 11:48 WIB

Pesawat milik maskapai Citilink terdampak abu vulkanik erupsi Gunung Ruang di Bandara Sam Ratuangi, Manado, Sulawesi Utara

JAKARTA - Politikus Partai Gerindra, Fadli Zon menilai Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas telah memelintirkan istilah populisme dan populisme Islam. Fadli Zon mengatakan, Menag seharusnya tidak menggunakan istilah tersebut, sebab bisa memberikan salah persepsi terhadap Istilah populisme dan populisme Islam.

"Menteri Agam secara gegabah telah memelintir Istilah populisme Islam sebagai paham yang berusaha menggiring agama menjadi norma konflik. Pemelintiran semacam itu jelas keliru. Apalagi dalam pernyataan yang sama dia samakan populisme dengan radikalisme. Itu bentuk salah paham yang sangat fatal," ujar Fadli Zon dikutip dari chanbe YouTubenya, Rabu (30/12).

Fadli Zon mengatakan, Menag Yaqut yang juga merupakan Politisi, seharunya paham bahwa populisme adalah kosa kata biasa baik dalam ilmu politik maupun dalam kajian demokrasi.

"Tak ada problem intrinsik dalam Istilah tersebut," kata Fadli Zon.

Anggota Komisi I DPR RI ini mengatakan, secara semantik, populisme berarti gagasan dari kalangan elit yang memberikan perhatian kepada rakyat kecil. Sementara dalam kaitannya dengan istilah populisme Islam, Istilah tersebut juga bisa dimaknai sebagai gagasan yang berusaha mengartikulasikan kepentingan umat Islam.

"Jangan lupa, sebagai politis yang berasal dari partai berbasis Islam, dia (Menag) sendiri bisa dianggap sebagai produk dari populisme Islam. Jadi apa yang salah dengan gagasan tersebut," ucap Fadli Zon.

Fadli melanjutkan, sebagai pejabat negara dalam bidang keagamaan, Menteri Agama seharunya banyak menjalankan fungsi sebagai jembatan untuk umat beragama dengan pihak pemerintah.

"Dalam posisi itu, dia seharunya lebih banyak melakukan politik inklusi, merangkul, mengajak, bukannya melanjutkan melakukan politik eksklusi dari menteri agama sebelumnya yang terus menerus membangun tembok di antara umat beragama, antara kaum sana dan kaum sini," pungkasnya. (dal/fin). 

Admin
Penulis