Tata Motors Ajukan 125 Hak Paten Otomotif, Siap Rilis Mobil Listrik Mulai 2025

Tata Motors Ajukan 125 Hak Paten Otomotif, Siap Rilis Mobil Listrik Mulai 2025

Ilustrasi Tata Motors--Tatamotors.com

JAKARTA, FIN.CO.ID - Perusahaan mobil asal India, Tata Motors, mengajukan 125 hak paten teknologi otomotif pada tahun fiskal 2022.

Paten yang diajukan di antaranya berbagai pengembangan inovasi dan tekonologi powertrain, mesin bahan bakar konvensional dan energi terbarukan, fitur keselamatan, fitur mobil terkoneksi, hingga trim tertentu.

(BACA JUGA:General Motors Bakal Rilis Electra-X di Cina Bulan Depan, Mobil Listrik Pesaing Tesla)

"Kami telah menetapkan warisan dan tolok ukur baru dengan teknologi dan fitur mutakhir di bidang energi baru, keselamatan, kinerja produk, biaya kepemilikan, dan digitalisasi," kata President & CTO Tata Motors Rajendra Petkar, dilansir Economic Times, Selasa, 31 Mei 2022.

Meski begitu, Tata Motors tak memerinci apa saja hak paten pada teknologi yang sedang diajukan.

Mereka juga tak menjelaskan apakah hak paten itu ditujukan untuk kendaraan komersial atau mobil penumpang.

(BACA JUGA:Tampilan Suzuki Carry Eeco Bakal Dirombak setelah 11 Tahun Gitu-gitu Saja)

“Kemampuan intrinsik dalam riset dan pengembangan, inkubasi teknologi, dan keberhasilan dalam mengembangkan kendaraan yang menentukan segmen baik di kendaraan komersial maupun penumpang telah menghasilkan pengenalan beberapa inovasi selama bertahun-tahun,” kata Tata Motors dalam pernyataan resmi.

Pimpinan Perusahaan Tata Motors Natarajan Chandrasekaran menyatakan pihaknya serius dalam pengembangan mobil-mobil baru setelah menyiapkan pabrik baterai di India untuk mendorong ekosistem kendaraan listrik.

Pabrik baterai itu juga akan memperkuat rencana Tata Motors untuk meluncurkan 10 model mobil listrik mulai 2025 hingga 2030.

(BACA JUGA:Hyundai Creta vs KIA Seltos: Perang Bintang Mobil Korsel, Siapa Lebih Unggul?)

​Chandrasekaran menjelaskan, Tata Motors akan mengikuti upaya pabrikan otomotif global yang mengejar strategi nol emisi untuk menyesuaikan diri dengan kebijakan iklim yang kian ketat.

Sumber: