Sultan Puji Jokowi, Bangun RS Internasional di Bali

Sultan Puji Jokowi, Bangun RS Internasional di Bali

JAKARTA - Wakil Ketua DPD RI Sultan B Najamudin menilai pembangunan RS Internasional yang baru diresmikan Presiden Jokowi sebagai sebuah langkah maju. "RS Internasional akan menjadi fitur berwisata baru yang efektif meningkatkan grade wisata Bali dan jumlah wisatawan lokal hingga asing ke Bali," kata Sultan, Rabu (29/12). Menurutnya, dengan menyediakan fasilitas kesehatan kelas internasional, Bali tidak hanya akan menjadi destinasi wisata kelas dunia, tapi juga merupakan rujukan pengobatan dan pemulihan bagi kesehatan fisik dan psikis secara terintegrasi. "Kami optimis apa yang menjadi harapan pemerintah dalam menahan laju keluarnya devisa negara dengan memberikan pilihan pengobatan di RS modern ini akan efektif terwujud. Tentu saja dibutuhkan kesadaran bersama, terutama kelompok masyarakat menengah atas, untuk tidak lagi berobat ke luar negeri," ungkapnya. Image kecanggihan teknologi kesehatan dan keahlian dokter spesialis RS luar negeri, kata Sultan, tentu masih menjadi pertimbangan masyarakat. Ini menjadi PR yang harus dijawab oleh RS Internasional Bali. "Kami mendorong agar Pembangunan RS Internasional ini harus dibarengi dengan peningkatan kualitas lembaga pendidikan vokasi dokter dan perawat di dalam negeri. SDM kesehatan dengan kualitas internasional juga harus dibangun sejak dini," tegasnya. "Sejauh yang kami ketahui, Indonesia bahkan belum memiliki lembaga sertifikasi internasional nakes, khususnya perawat. Padahal tenaga ahli madya perawat kita dibutuhkan oleh eropa yang mematok standar perawat kualitas tinggi," tambahnya. Seperti diberitakan, Jokowi yang hadir dalam peletakan batu pertama itu berharap masyarakat Indonesia tak akan lagi berobat ke luar negeri. "Kita harapkan nanti Sanur ini menjadi KEK kesehatan dan kita harapkan tidak ada lagi. Kalau ini jadi, tidak ada lagi rakyat kita, masyarakat kita yang pergi ke luar negeri untuk mendapatkan pelayanan kesehatan," ujar Jokowi. Jokowi mengatakan dua juta masyarakat Indonesia setiap tahun ke luar negeri untuk berobat dengan destinasi Singapura, Malaysia, Jepang, hingga Amerika Serikat. Negara, kata dia, kehilangan Rp97 triliun. (khf/fin)

Sumber: