Buronan Kim Johanes Ditangkap di Hotel Mewah

FIN.CO.ID, JAKARTA - Terpidana Kim Johanes Mulia yang merupakan Direktur Utama PT Detta Marina dibekuk Tim Intelijen Kejaksaan Agung di Hotel Arya Duta Semanggi Jakarta Selatan, Rabu (4/9) lalu. Kim merupakan pelaku penipuan yang telah diburu petugas Kejaksaan. Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapus Penkum) Kejaksaan Agung, Dr Mukri mengatakan penangkapan terhadap Kim Johanes Mulia berjalan lancar tanpa adanya perlawanan. "Kim Johanes Mulia merupakan buronan ke-119 di Tahun 2019 yang ditangkap Tim Intelijen Kejaksaan," katanya di Kejaksaan Agung, Jakarta, Jumat (6/9). Dia menjelaskan selanjutnya oleh Jaksa Kejari Jakarta Pusat Kim Johanes Mulia dieksekusi dan dijebloskan ke Lembaga Pemasyarakatan Klas II-A Salemba, Jakarta Pusat. "Untuk menjalani hukuman selama 2 tahun penjara," Jelasnya. Dia memparkan terpidana Kim Johanes Mulia dinyatakan masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) sejak Oktober 2018 oleh Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat, berdasarkan Putusan Mahkamah Agung RI Nomor: 727 K/PID/2018 tanggal 05 September 2018. Terpidana Kim Johanes Mulia telah dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana penipuan dan dijatuhi pidana penjara selama 2 tahun. "Perbuatan terpidana Kim Johanes Mulia mengakibatkan Adang Bunyamin mengalami kerugian sebesar Rp 31.500.000.000 atau Rp 31,5 miliar," tutupnya. Kim Johanes Mulia adalah direktur utama Intra Asia Corpora, perusahaan investasi yang menaungi antara lain Asuransi Mitra Asia. Dia dikenal sebagai pengusaha kontroversial karena beberapa kali terlibat dalam skandal keuangan besar di Indonesia. Berdasarkan penelusuran dari berbagai sumber, Kim Johanes tercatat pernah membeli perusahaan tekstil Detta Marina (1994). Perusahaan itu penuh utang karena ekspansif membeli mesin-mesin baru. Karena pasar tekstil terus memburuk, kredit yang diperoleh dari Bapindo (yang kini setelah dimerger menjadi Bank Mandiri) akhirnya macet. Saat itulah Kim jadi mengambil alih Detta Marina. Dia menemui Pande Lubis kepala cabang Bapindo Rasuna Said, Jakarta. Waktu itu, Kim mengaku mendapat pesanan ekspor dari dua perusahaan di Singapura, yakni Vesture Marketing dan Luigi Trading. Kim meminta agar Detta Marina kembali diberi pinjaman berupa kredit lunak eskpor. Singkat kata, Bappindo akhirnya mengucurkan Rp 32 milyar kepada Kim. Karena berupa kredit ekspor, Kim hanya diwajibkan mengangsur pinjaman dengan bunga tiga persen per tahun. Itu berbeda dengan bunga kredit di luar ekspor yang mencapai delapan persen. Namun diketahui belakangan, dua perusahaan di Singapura yang disebutkan Kim ternyata fiktif. Kejaksaan Agung saat itu sempat menjadikan Kim sebagai tersangka. Dia bukan saja dianggap menikmati kredit Rp 32 milyar, tapi juga dituding menikmati selisih bunga lima persen dari kredit yang diperolehnya. Namum Kim bebas dengan alasan uang negara telah dikembalikan. Pada 1997 nama Kim muncul kembali saat dituding terlibat penerbitan surat utang untuk Bank Artha Prima milik Made Oka Masagung (PT Gung Agung) senilai kurang lebih Rp 1 trilyun. Surat-surat utang itu bukan saja tidak ada jaminannya (kredit) melainkan juga baru dibukukan setelah akan jatuh tempo. Made Oka dan Kim diseret ke pengadilan, tapi keduanya bebas murni. Di era reformasi, Kim juga menjadi pemberitaan karena tersangkut perkara korupsi hak tagih (cessie) Bank Bali senilai Rp 5 triliun. Kim dituding terlibat membuat surat fiktif dari Direktur Utama Bank Bali, Rudy Ramli. Surat itu berisi bantahan dari Rudy tentang keterlibatan orang-orang dekat Presiden B.J Habibie, antara lain seperti A.A Baramuli dalam kasus hak tagih Bank Bali. Di depan anggota DPR, Rudy mengaku surat bantahan itu bukan dia yang membuat dan berbeda dengan catatan hariannya. Rudy pula yang menceritakan, Kim terlibat dalam pembuatan surat bantahan fiktif itu. Bersama Baramuli, Kim dituduh kecipratan dana hak tagih Bank Bali melalui PT Indowood Rimba Pratama sebesar Rp 5 milyar. Waktu itu Kim mengaku menerima uang tersebut sebagai pembayaran jual-beli valuta asing dengan Joko S. Tjandra. Lalu Kim pula yang membeli beberapa perusahaan Baramuli di bawah bendera Poleko Group, walaupun di sana menumpuk kredit macet yang cukup besar. Tahun 2001, nama Kim mencuat karena digugat pailit oleh mantan kreditornya, Irie Lumber di Jepang dan Century Wood Product di Singapura. Kim dianggap wanprestasi Rp 5,2 milyar. (lan/gw/fin)

Tags:
Topik:
Sumber :

BERITA TERKAIT