'Tolong Aku, Aku Punya Anak Kecil,' Musharraf Berlutut Memohon ke Perusuh India

'Tolong Aku, Aku Punya Anak Kecil,' Musharraf Berlutut Memohon ke Perusuh India

NEW DELHI - Massa Hindu yang beringas menghancurkan gerbang dan memutus aliran listrik. Mereka masuk menyerbu anak tangga di gedung itu --gedung yang ditempati Musharraf dan keluarganya-- dengan arogan, massa meneriakkan nama dewa Hindu dan mengacungkan pisau, rantai, patang besi dan potongan-potongan pipa. Musharraf dan keluarganya yang beragama Islam, bersembunyi di sebuah ruangan gelap. Musharraf yang berprofesi sebagai tukang becak ini, sembunyi di bawah kolong tempat tidur. Tetapi gerombolan massa Hindu yang lebih dari 25 pria menemukannya. "Tolong, aku juga saudaramu," Musharraf memohon dan melipat tangannya di depan dadanya. "Aku juga punya anak kecil, sepertimu." Kata pria 37 tahun itu dikutip nytimes. Mereka memukul wajahnya dan menyeretnya keluar. Anggota keluarga, bersembunyi di sekitar lingkungan, dengan panik memanggil polisi. Polisi tidak ada yang datang. [caption id="attachment_438944" align="alignnone" width="696"] Durgha yang hancur di Bhajanpura.[/caption] Istri Musharraf, Mallika, menunggu dalam kegelapan, berharap gerombolan itu meninggalkan rumahnya agar bisa melarikan diri dari lingkungan itu yang telah terkepung. Mallika berlari ke rumah terdekat seorang Hindu dan meletakkan bindi, titik berwarna yang biasanya dikenakan oleh orang Hindu, di dahinya. Saat kabur, dia dihentikan oleh gerombolan Hindu yang lain. Mereka memegang senjata, tongkat, kayu dan pipa. Para gerombolan itu meminta menunjukan identitasnya. Dia berpura-pura dia Hindu. Mallika dibiarkan pergi. Orang-orang itu juga bahkan menghentikan seorang anak berusia 2 tahun, mendesak untuk melihat apakah ia telah disunat (yang cenderung dilakukan oleh orang Muslim, tetapi banyak orang Hindu tidak). Untungnya, bocah itu belum disunat. "Kami dikepung, mereka membunuh kami," kata Shakir, saudara ipar Mr. Musharraf. Dia dan kerabat lainnya menelepon polisi puluhan kali, katanya, tetapi entah tidak ada jawaban atau mereka diberitahu bahwa petugas sedang sibuk. "Tidak ada yang datang untuk membantu," katanya. Musharraf malam itu tewas. Seorang tetangga melihat mayatnya diangkat dari parit, bersama enam lainnya. Wajahnya hancur. "Dia satu-satunya orang yang aku miliki di dunia ini," kata Istri Musharraf dengan isak tangis. Di dekat gerbang kamar mayat, Mallika bersandar di dinding. Dia menutup matanya. Dia tampak kelelahan. [caption id="attachment_438943" align="alignnone" width="696"] Istri Mr. Musharraf, Mallika, dihibur oleh putri mereka, Muskaan di New Delhi pada hari Kamis. (nytimes)[/caption] Cobaan keluarga Musharraf, yang berlangsung Selasa malam pekan lalu, hanyalah salah satu dari banyak catatan kekerasan di India terhadap ummat Muslim. India sekitar 80 persen Hindu, 14 persen Muslim. Kerusuhan dipicu oleh protes duel untuk dan terhadap undang-undang kewarganegaraan baru India, yang secara luas dipandang sebagai anti-Muslim. Banyak orang menyalahkan Kapil Mishra, seorang politisi yang ambisius yang dikenal membuat pernyataan anti-Muslim. Dia termasuk di antara mereka yang dituduh berbicara kebencian. Angka kematian akibat kerusuhan Hindu dan Islam di India menjadi 38 orang. Sejumlah fasilitas umum dibakar, termasuk Masjid dan rumah-rumah ummat Islam. Pertanyaan-pertanyaan semakin meningkat tentang mengapa polisi New Delhi yang dinilai gagal memadamkan pertumpahan darah. Dilaporkan nytimes, saksi mata mengatakan bahwa petugas polisi New Delhi, di bawah komando partai pengurus nasionalis Hindu yang memiliki sejarah panjang dalam menjelek-jelekkan Muslim, sengaja mundur dan membiarkan gerombolan Hindu membantai warga sipil Muslim. Agen intelijen dalam dinas kepolisian mengirim beberapa peringatan pada hari Ahad. Mereka meminta pasukan tambahan untuk dikerahkan, tetapi kekerasan dan kerusuhan tetap muncul. "Seluruh kota tahu bahwa kerusuhan akan segera terjadi," kata Harsh Mander, seorang aktivis hak asasi manusia yang mendesak pengadilan untuk menyelidiki para pemimpin kelompok itu. "Mengapa polisi tidak bertindak?" Pada sidang pengadilan pada hari Kamis pekan lalu, Harsh Mander menuduh beberapa anggota partai yang memerintah terlibat dalam pidato kebencian dan menghasut pembunuhan terhadap Muslim. (dal/fin)

Sumber: