147 Warga di Ibukota Dipantau dan Diawasi

147 Warga di Ibukota Dipantau dan Diawasi

JAKARTA - Sedikitnya ada 147 warga di Ibukota Jakarta tengah pemantauan dan pengawasan dari tim medis terkait kasus corona. 115 masuk dalam pemantauan, sedang 32 lainnya dalam pengawasan. Hal tersebut diungkapkan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Menurutnya selama sebulan belakangan ada lebih dari seratus warga yang sedang dipantau kesehatannya terkait virus corona. "Sampai saat ini, selama satu bulan lebih, di DKI ada 115 orang yang dalam pemantauan dan ada 32 orang pasien dalam pengawasan. Ini semua mengikuti kriteria yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan," kata Anies, Minggu (1/3). Dijelaskannya, selain itu Pemprov DKI Jakarta juga menyiapkan instruksi gubernur (ingub) bukan hanya untuk mengantisipasi penanganan 115 orang dalam pantauan tersebut, tapi juga untuk menyikapi penyebaran virus corona yang terjadi di luar Indonesia. Sebab dalam beberapa hari, ada lebih dari 10 negara yang mengumumkan kasus virus corona pertama, mulai dari Selandia Baru sampai Nigeria. "Instruksi gubernur bagian dari kewaspadaan dan persiapan kita jika terjadi kasus virus corona di Jakarta," katanya. Dikatakannya, Pemprov DKI Jakarta akan membentuk posko yang berfungsi sebagai pusat pemantauan, pencegahan dan penanggulangan penyebaran virus corona di Jakarta. "Nanti akan ada poskonya, Senin besok (hari ini) akan diumumkan lengkapnya. Yang jelas ini akan menjadi rujukan untuk semua kegiatan yang terkait dengan COVID-19, sebagai pusat kendali untuk pemantauan, pencegahan dan penanggulangan COVID-19," katanya. Anies melanjutkan, pihaknya juga tengah membentuk Tim Tanggap Virus Corona. Tim akan diketuai oleh Asisten Bidang Kesra, berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan melibatkan pemangku kepentingan yang ada di Jakarta. "Kolaborasi ini kita lakukan mengapa kita bergerak cepat dan antisipasi karena Jakarta adalah pintu gerbang Indonesia, kedatangan orang, interaksi dunia internasional porsi terbesarnya ada di Jakarta," katanya. "Selain ada provinsi lain yang memiliki kunjungan besar. Umumnya wisata. Kemudian Jakarta termasuk bisnis," kata Anies. Semua ini dilakukan dengan harapan masyarakat merasa tenang dan pemerintah daerah bergerak responsif. Anies mengajak masyarakat tidak panik dan berlebihan dalam merespons. "Berkegiatan seperti biasa dan jangan menyebarkan berita yang belum terkonfirmasi kebenarannya, namun tetap dalam kondisi bersiaga," katanya. "Kemudian sering mengecek sebelum menyebarkan kabar dan rujuk kepada kami bila membutuhkan bantuan apabila mencurigai ada kasus yang serupa dengan gejala COVID-19," katanya. Pemprov bisa dihubungi lewat 112 dan seluruh sarana kesehatan di Pemprov DKI termasuk personalianya akan siap merespons cepat. "Biasakan juga cuci tangan sebagai pencegahan paling baik dan bila sedang batuk atau flu maka pakai masker," tuturnya. Diterangkan Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes Anung Sugihantono, bahwa yang dimaksud orang dalam pemantauan yaitu yang memiliki gejala seperti terjangkit virus Corona. Mereka juga memiliki riwayat pernah pergi ke negara terinfeksi virus Corona, seperti China, Singapura, Malaysia, Korea Selatan, dan Jepang. "Kalau kamu ada pilek sekarang, kalau kamu badannya hangat, kemudian kamu pernah ke tempat yang punya riwayat infeksi, saya masukkan orang dalam pemantauan. Kamu pulang dari China, Malaysia, kamu pulang dari Singapura yang sudah terinfeksi kamu saya masukkan ke orang dalam pemantauan," katanya. Sedangkan, orang yang masuk pengawasan yaitu mereka yang gejalanya bertambah dengan adanya sesak napas. Apabila memiliki gejala tersebut, mereka akan dibawa ke rumah sakit dan diisolasi. "Kalau orang pasien dalam pengawasan itu kamu nambah sesak napas, sehingga kamu saya bawa ke rumah sakit. Kamu saya taruh di ruang isolasi. Swap-nya yang diambil itu, statusnya pasien dalam pengawasan," kata lagi. Diterangkan Anung, mereka yang masuk dalam pengawasan adalah suspect virus Corona. Meski demikian, orang yang disebut suspect Corona bukan berarti positif terjangkit. Ada tiga tahap untuk memastikan pasien tersebut benar-benar positif virus Corona. "Setelah suspect itu nanti probable, setelah probable baru confirm. Jangan dianggap kalau suspect sudah terinfeksi tapi tidak terbukti. Itu bukan itu maknanya," terangnya. Anung mengatakan orang yang masuk kategori pemantauan dan pengawasan tidak berbahaya. Hanya, orang yang sudah masuk pengawasan perlu diisolasi. "Kalau kamu pulang dari Singapura terus saya sebut kamu orang bahaya kamu bisa kerja nggak? Nanti saya masukkan rumah sakit untuk isolasi sambil nunggu hasil dinyatakan bahaya, boleh nggak. Disediakan peti mati boleh nggak?" kata Anung. Saat ini, sudah ada 146 orang di Indonesia yang suspect corona. "Sampai sekarang ada 146 dan sudah diambil spesimennya," ucapnya. Sebelumnya, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Pemyakit Dinas Kesehatan DKI Jakarta Dwi Octavia memastikan tidak ada warganya yang terjangkit virus corona. "Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta menyatakan bahwa hasil tes laboratorium menunjukkan bahwa tidak ada pasien penderita COVID-19 di DKI Jakarta," katanya. Informasi tersebar melalui media sosial akibat pemberitaan yang tidak benar berasal Dinas Kesehatan DKI Jakarta. "Slide yang dimaksudkan dengan kasus COVID-19 adalah menunjukkan pasien dengan dugaan awal COVID-19 karena memiliki gejala dan riwayat perjalanan dari negara terjangkit," ujar Dwi. Dwi menjelaskan dalam pemeriksaan sampel yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) Kementerian Kesehatan untuk kawasan DKI memiliki hasil negatif untuk COVID-19. Dwi juga mengatakan sebanyak 115 orang dalam pemantauan dan 32 orang pasien dalam pengawasan berdasarkan kriteria yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan RI. "Orang dalam pemantauan dan pasien dalam pengawasan tersebut berdasarkan hasil penyelidikan epidemiologi (PE), tersebar di 5 wilayah kota di DKI Jakarta dan luar DKI Jakarta," ungkapnya.(gw/fin)

Sumber: