Artileri Myanmar Hantam Desa Rohingya

Artileri Myanmar Hantam Desa Rohingya

RAKHINE - Setidaknya lima orang etnis Rohingya terbunuh dan puluhan lainnya cedera setelah terjebak dalam pertempuran antara pasukan pemerintah dengan gerilyawan di Negara Bagian Rakhine, Myanmar. Dilansir dari Reuters, pertempuran pecah saat pasukan pemberontak Angkatan Darat Arakan menyerang konvoi militer yang melewati kota kuil bersejarah Mrauk U, Sabtu (27/2) lalu. Info didapat dari keterangan anggota parlemen setempt, Tun Thar Sein, dan seorang juru bicara Arakan, Khine Thu Kha Kepada Reuters, Khine Thu Kha, menyalahkan pasukan pemerintah atas korban sipil yang berjatuhan. Sementara, juru bicara pemerintah mengaku tidak bisa berkomentar atas kejadian tersebut.

BACA JUGA: Sanksi Hukum Bagi Pejabat Tak Serahkan LHKPN

Reuters tidak dapat mengkonfirmasi rincian serangan di daerah terpencil itu. Para wartawan dilarang mendekat dan akses internet diblokir. Dari informasi yang dihimpun Reuters, peluru artileri militer Myanmar menghantam Desa Bu Ta Lone sebagai balasan atas kejadian pencegatan di Kota Mrauk U. Setidaknya, empat orang warga Etnis Rohingya tewas. Keterangan ini disampaikan juru bicara Angkatan Darat Arakan dalam sebuah pesan. Namun keterangan berbeda disampaikan Anggota Parlemen Regional Arakan. Pria yang juga pekerja kesehatan mengatakan setidaknya lima etnis Rohingya menjadi korban artileri tersebut. Seorang anak lelaki berusia 12 tahun ada di antara mereka. Juru bicara militer Myanmar tidak menanggapi panggilan telepon dari Reuters untuk mencari rincian tambahan. Seorang juru bicara pemerintah mengirim pesan teks yang mengatakan dia sedang rapat.

BACA JUGA: Lokasi Karantina Terpisah 69 ABK Diamond Princess

Ada beberapa laporan yang saling bertentangan tentang jumlah orang Rohingya yang terluka. Ada yang menyebut enam orang, ada pula yang mengatakan 11 orang. Para korban disinyalir tidak hanya dari etnis Rohingyaz melainkan beberapa warga etnis Rakhine ikut menjadi korban. Sejak 2013, lebih dari 730 ribu warga Etnis Rohingya mengungsi ke negara tetangga Bangladesh usai mendapat persekusi dari Myanmar. (fin/tgr)

Sumber: