Jangan Panik, Sudah Membaik

Jangan Panik, Sudah Membaik

JAKARTA - Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto mendatangi RSPI Sulianti Saroso, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin (2/3). Kedatangan Menkes terkait dengan adanya dua orang WNI yang dinyatakan positif terinfeksi virus corona (Covid-19). Menkes Terawan memastikan bahwa keadaan kedua pasien corona tersebut baik. ”Semua pasien dalam kondisi baik nggak ada demam, nggak ada sesak, ngga ada apa. Hp main sendiri juga bisa, menurut saya sehat,” kata Terawan di RSPI Sulianti Saroso Jakarta, Senin (2/3). Dua pasien yang merupakan warga Depok Jawa Barat ini dalam pengawasan tim medis yang khusus menangan pasien rujukan penyakit infeksi. ”Terpisah sendiri gedungnya. Di ruang isolasi RSPI yang sudah emang memenuhi standar. Wong ini rumah sakit rujukan nasional untuk penyakit infeksi,” ujar Terawan.

BACA JUGA: Tua Bangka Cabuli Anak Tetangga

Penanganannya kata Terawan sesuai dengan simulasi meskipun yang disimulasikan lebih gawat. Menurut Terawan virus corona tidak seganas H5N1 dan penyakit menular lainnya. ’’Kalau ini kan enggak, corona ini kan nggak seganas H5N1, flu burung dan sebagainya. Ini kan dengan mortalite yang lebih rendah atau kurang gimana,’’ terangnya. Menkes menceritakan kronologis penularan Covid-19 dua WNI. Dimana bermula ketika salah satu WNI yang selaku guru dansa berinisial NT (32), berdansa dengan warga negara (WN) Jepang di salah satu club di Jakarta pada 14 Februari lalu. Ia kemudian merasakan gejala batuk-batuk, sesak, dan demam hingga akhirnya berobat jalan. Sedangkan pasien berinisial MD (64), merupakan ibu NT yang sempat kontak langsung pada 20 Februari lalu. Keduanya didiaknosa tertular virus corona dan dirujuk ke RSPI Sulianti Saroso. ”Sampai di sini (RSPI Sulianti Saroso) tangga 1 Maret. Dirawat di sini tanggal 1 Februari, kita langsung melalukan cek. Hasilnya tadi pagi, saya diberitahu maka tracking sudah jalan, sehingga si pasien cewek ini bersama ibunya (64 tahun), dua-duanya dicek. Saat ini kondisinya baik, batuk sekali-kali,’’ beber Menkes. Sebelum mendapat perawatan intensif di RSPI Sulianti Saroso, kedua pasien sempat dirawat dan dilakukan pemeriksaan di RS Mitra Keluarga Depok, namun tim medis RSPI Sulianti Saroso tetap melakukan pemeriksaan yang sama. ’’Sudah dilakukan sama, begitu dia odp rumah sakit itu sudah otomatis melalukan tindakan pencegahan yang sama dengan disini. Namun, tetep saya tracking semua, dan hari ini kita lalukan cek traling ulang,’’ jelas Menkes. Menkes berpesan kepada media agar tidak mencantumkan identitas pasien. ’’Kita selalu bahwa pasien itu nama dan sebagainya enggak boleh lah sembarangan diumbar. Kamu sendiri kalau sakit kan enggak elok kalau diungkapkan,’’ kata Terawan.

BACA JUGA: Penasihat Pimpinan Tertinggi Iran Meninggal Akibat Virus Corona

Ia memastikan bahwa Dinas Kesehatan dan Kemenkes melakukan upaya sesuai Standar Operational Prosedur (SOP) yang telah disepakati bersama organisasi kesehatan dunia atau World Health Organization (WHO). ”Yang tidak bisa itu kita cegah, memang kalau mau sakit ya sakit. Itu yang kita tidak tahu. Tapi, pencegahan sudah kita lakukan. Jadi sudah jelas, bahwa apa yang dilakukan oleh Balitbangkes sudah nyata. Kalau positif ya positif. Kalau negatif ya negatif,’’ jelasnya. Lebih lanjut Menkes menjelaskan mekanisme selanjutnya yang disebut Surveillance tracking. Mekanismenya, mulai dari dengan siapa pasien melakukan kontak, tempat tinggal di mana, rumah sakit yang mana. ”Semuanya kita tracking. Kita cek waspadai. Bukan berarti semua harus di-swap. Harus inget ya, tidak semua orang kontak itu menjadi sakit atau positif corona. Itu yang harus disadari,” terangnya. ”Itu terbukti dari pasien World Dream. Bukan yang diamond Princess ya, dia diturunkan di Hongkong. Tapi apa kenyataannya, 188 orang itu negatif semua, padahal ada kontak di situ,” jelas Terawan. Artinya, kata ia tidak semua kontak akan jadi positif COVID-19, tergantung kondisi tubuh seseorang. Kalau imunitas orang baik maka kecil kemungkinan akan tertular virus corona. ”Ini data ya, 188 orang enggak main-main negatif semua padahal close kontak dengan orang yang dia layani di kapal itu,” katanya. Terkait awal mula dua WNI tertularnya virus corona di salah satu club di kawasan Kemang Menkes memastikan bahwa pihaknya akan melakukan pendataan terhadap orang yang berada di club tersebut dimana WN Jepang menularkan Covid-19. ”Langkahnya ya didata. Yang waktu itu siapa ke mana, diumumkan juga siapa yang merasa pada waktu itu di klub itu kemudian ada keluhan apa. Kalau enggak ada keluhan ya gak masalah. Tidak semua yang kontak akan menjadi sakit. Itu prinsip,” tutur Terawan. Namun, Menkes mengataka pihaknya tidak melakukan pengecekan langsung di club tersebut, dengan alasan tidak ingin menimbulkan paranoid. ”Enggak begitu, kita enggak memunculkan paranoid. Semua kita harus rasionalitas. Kita akan cek survillance track ini lah untuk memantau. Sing rung rampung wis tak jane piye ini,” cetusnya. Ketika ditanya kenapa WN Jepang bisa lolos masuk ke Indonesia dan menyebarkan virus corona, Menkes berdalih, bahwa saat masuk ke Indonesia WN Jepang tidak mengalami keluhan, gejala ataupun tanpa keluhan atau tanpa gejala atau minum obat. ”Tapi kalo dia minum obat flu atau obat batuk nggak akan terdeteksi dia. Karena keluhan itu hilang semua. Menurut saya dia pasti minum obat karena ketahuan setelah dia di Malaysia,’’ katanya. Menkes menekankan bahwa yang mudah terjangkit virus adalah orang yang imunitas tubuhnya rendah. ’’Itu yang harus menjadi prinsip. Supaya kita nggak merasa ya kayak gini ini semua pake masker, yang sakit saya apa yang sakit yang pake masker,’’ ujarnya.

BACA JUGA: Boruto Episode 146: Mampukah Boruto Kabur Bersama Kokuri?

Dinas Kesehatan, kata Tetawan akan melakukan tracking satu per satu terhadap orang-orang yang melakukan kontak dengan pasien positif corona untuk memastikan apakah ada keluhan atau tidak. ’’Kalau nggak ada keluhan atau apa-apa ya nggak ada masalah. Orang ini kayak flu biasa aja kok. Cuma namanya corona, jadi kita waspadai. Yang penting informasi itu sampai ke tenaga kesehatan, sampai dinas kesehatan sampai puskesmas itu,’’ kuncinya. Sejauh ini kata Terawan Kemenkes sudah melakukan langkah-langkah yang tepat. Langkah pertama kita berdoa yang benar. kemudian mengutamakan menjaga imunitas tubuh. ”Semua kita lakukan, di bandara kita awasi. Kan ini memang kasus yang nggak keliahatan kecuali dia batuk panas ada demam ya ketauan, tapi kalo gak ada ya gak bisa ketauan,” ujarnya. Ia mengatakan kondisi dua pasien corona sudah membaik, dan sudah bisa dipulangkan. Namun, kata Menkes, pasien tetap harus di swipe ulang setelah lima hari. ”Sebenernya kalo mau dipulangkan ya bisa tapi kan saya mesti cek lagi, kita swipe ulang. Biasanya setelah lima hari kita swipe ulang. Biasajya negatif kalo udah dalam perawayan itu cepat sekali,” ujarnya. Tata laksana pasien corona kata Menkes sama seperti kasus flu. Pasien diberikan vitamin, makanan sehat. Namun dalam kasus ini, pasien tidak diberitakan antibiotik karena penyakit ini tidak disebabkan bakteri, melainkan virus. ”Imunitasnya dinaikkan sudah pasti sembuh sendiri. Namanya self limited disease,” tuturnya. (dim/fin/ful)

Sumber: