Ternyata Tidur Bisa Cegah Virus Corona

Ternyata Tidur Bisa Cegah Virus Corona

JAKARTA - Virus corona (Covid-19) menjadi momok menakutkan bagi masyarakat dunia, tak terkecuali di Indonesia. Bagaimana tidak, Kementerian Kesehatan telah mengumumkan sampai saat ini ada empat orang dinyatakan positif corona. Pemerintah mengimbau masyarakatnya untuk melakukan pencegahan dengan perilaku hidup bersih dan sehat utamanya menjaga daya tahan tubuh. Tidur yang berkualitas merupakan salah satu kunci menjaga daya tahan tubuh (imun) tetap bagus. Hal ini dibenarkan pakar kesehatan tidur dr Andreas Prasadja, RSPGT. Menurut ia menjaga daya tahan tubuh secara optimal bisa dicapai dengan tidur yang cukup. Karena tidur sangat penting bagi kualitas manusia, salah satunya daya tahan tubuh yang hanya bekerja pada saat tidur. Dengan begitu, kata dr. Ade dengan tidur yang optimal bisa melindungi tubuh dari 'benda asing' yang masuk ke dalam tubuh, termasuk virus corona. "Kan lagi rame nih virus corona. Sebenarnya mau meningkatkan daya tahan tubuh terhadap corona virus ya cuma cukup tidur. Segala vitamin, apalah akan percuma kalau tidurnya kurang," kata dr Ade pada peluncuran DNA Journal Sleep and Stress by Generali, beberapa waktu lalu. dr Ade menyebut penelitian mengenai kaitan tidur dengan daya tahan atau kekebalan tubuh sudah cukup banyak. Sistem imun atau kekebalan tubuh merupakan sistem yang kompleks, sistem ini harus mengenali apabila ada zat asing yang masuk ke dalam tubuh, misalnya seperti virus Covid-19. Setelah mengenali zat asing tersebut, barulah sel-sel imun dilepaskan sesuai dengan jenisnya. Proses respons ini akan dipercepat pada saat tidur, dan akan melambat ketika kita justru kurang tidur. dr Ade juga menyebut ada suatu penelitian di mana ada sekelompok orang yang cukup tidur dengan sekelompok orang yang kurang tidur diekspos dengan virus influenza. Alhasil, yang cukup tidur tidak terkena sakit, namun yang kurang tidur kemungkinan terkena sakit lebih tinggi, bahkan ada beberapa yang sudah sakit. "Sesederhana itu, tapi sering kita abaikan," ujar dr Ade. Lantas, berapa lama waktu tidur yang ideal. dr Ade menyebutkan bagi orang dewasa setidaknya tidur selama 7-9 jam sehari, dengan catatan 7 jam adalah minimumnya. "Waktu tidur bagi orang dewasa maksimal pukul 11 malam (23.00)," ujarnya. Kualitas tidur semestinya tidak diabaikan oleh karena itu menyiapkan diri sebelum tidur perlu dilakukan. Misalnya dengan melakukan hal-hal yang menyenangkan tapi menenangkan seperti meditasi, yoga, mendengarkan musik relaxing favorit, membaca buku, dan lain-lain. Lakukan aktivitas ini setidaknya tiga puluh menit sebelum menuju tempat tidur. Ia tidak menganjurkan menggunakan ponsel sebelum tidur kecuali digunakan untuk memutar lagu misalnya sebagai penenang sebelum tidur. Ia mengingatkan harus disiplin, dan melakukan segala macam aktivitas di luar kamar atau tempat tidur. "Dibuat senyaman mungkin sehingga suasananya beda dengan suasana aktivitas. Handphone jangan lupa blue light screen harus aktif. Setelah rileks, baru tidur. Tempat tidurnya rapi, dingin, licin, nyaman," pungkasnya. Sleep and Stress Untuk mendukung masyarakat dalam meningkatkan kualitas tidur, PT Asuransi Jiwa Generali Indonesia (Generali Indonesia) meluncurkan fitur Sleep and Stress, yang akan membantu nasabah mengenali profil tidur, tingkat ketahanan & toleransi terhadap stres serta potensi gangguan tidur sesuai dengan DNA masing-masing. Layanan ini merupakan fitur terbaru dari Generali DNA Journal yang juga mampu memberikan analisa variasi genetik terhadap kebutuhan nutrisi, sensitivitas pada kandungan makanan serta hal-hal umum lainnya yang menyangkut stamina dan kesehatan tubuh. Melalui hasil analisa DNA Journal ‘Sleep and Stress’, nasabah bisa mengatur respon diri untuk mengantisipasi situasi dengan tekanan tinggi (pressure), sehingga stres bisa lebih terkendali dengan baik tanpa mengurangi kualitas kerja. Di sisi lain, hasil analisa ini bisa membantu nasabah mengetahui kebutuhan tidur yang berkualitas, dampak kafein pada tidur serta mengidentifikasi kronotipe atau ‘jam internal’ kapan waktu paling mengantuk dan kapan saat paling berenergi, yang pada akhirnya mampu mengoptimalkan produktivitas. Keseluruhan analisa ini bisa didapatkan hanya dengan memberikan sampel air liur. Edy Tuhirman (CEO Generali Indonesia) mengungkapkan, kehadiran fitur terbaru DNA Journal ‘Sleep and Stress’ semakin melengkapi layanan kami untuk nasabah agar hidup lebih sehat dan bahagia. Stres terkadang tidak disadari dan kita juga kurang memperhatikan kualitas tidur, padahal kedua hal ini bisa memberikan pengaruh besar terhadap kesehatan fisik dan mental seseorang. "Dari hasil analisa fitur terbaru ini, nasabah bisa mendapatkan ragam informasi baru tentang keunikan genetik mereka dan membantu mereka memiliki lifestyle dan behavior baru yang cocok dengan karakteristik DNA. Inilah yang menjadi perhatian kami untuk membantu nasabah lebih mengenal diri mereka dan mengurangi resiko sakit," jelas Edy. Hidup Seimbang Asupan makanan, olahraga, serta tidur & stres merupakan hal yang saling mempengaruhi satu sama lain untuk menjaga tubuh tetap sehat. Tidak hanya stres yang membuat seseorang sulit tidur, namun asupan makanan yang tidak sehat juga bisa menjadi penyebabnya; sebaliknya kurang tidur mampu meningkatkan stres dan mendorong seseorang makan makanan yang tidak sehat. Selain itu, kurang tidur menyebabkan tubuh tidak bisa beristirahat dan memperbaiki diri yang nantinya akan mengganggu program diet dan pola olahraga. Tidur yang cukup akan membantu metabolisme tubuh dalam mencerna nutrisi dan memaksimalkan kualitas olahraga, begitu pula sebaliknya, semakin baik asupan makanan dan olahraga maka pola tidur juga akan lebih teratur. Di sisi lain, penelitian menyatakan bahwa pola tidur dan stres berlebihan mampu meningkatkan risiko untuk mengidap penyakit kanker, kardiovaskular, gastrointestinal, dan diabetes. Selain sakit secara fisik, stres yang tidak terkelola juga mampu menyebabkan keletihan mental dan gangguan secara psikologi seperti mudah tersinggung, kehilangan nafsu makan serta libido, dan bahkan stres berlebihan bisa merusak otak seperti berkurangnya ingatan dan menyusutnya volume otak. Latar belakang inilah yang mendorong Generali menghadirkan rangkaian fitur DNA Journal, yang akan mengidentifikasi karakteristik nasabah melalui 3 DNA Report : - Nutrigenomic : infomasi genetik mengenai kebutuhan nutrisi serta sensitivitas tehadap karbohidrat, kafein, laktosa, dan vitamin, sehingga nasabah bisa menyesuaikan asupan makanan dan tipe diet yang sesuai. - Fitness : analisa genetik yang menyangkut kebugaran dan pola latihan, seperti identifikasi kekuatan dan ketahanan tubuh dalam olahraga, resiko cedera, dan durasi recovery setelah berolah raga. - Sleep & Stress : DNA report yang akan membantu mengoptimalkan kualitas tidur dan mengetahui ketahanan terhadap stress. Rangkaian Generali DNA Journal juga akan memberikan kesempatan bagi nasabah untuk mendapatkan konsultasi gratis dengan para ahli, baik dokter, nutrisionist, atau fitness coach, yang akan membantu menginterpretasikan hasil analisa dan mendiskusikan alternatif solusi terbaik untuk hidup yang lebih sehat. Laporan hasil analisis DNA ini akan dikirimkan dalam bentuk jurnal kesehatan digital yang bersifat personal dan rahasia. "Kami ingin nasabah bisa terus sehat, panjang umur dan memiliki hidup berkualitas, sehingga nantinya mereka bisa bahagia menikmati setiap waktu berharga bersama keluarga. Ini merupakan upaya kami untuk terus mewujudkan visi yang fokus dalam membentuk masa depan nasabah - enable people to shape a safer future by caring for their lives and dreams," tutup Edy. (ndim).

Sumber: