Guidance, Good Jurnalism Sampai Bisnis Media Modern Dibahas

Guidance, Good Jurnalism Sampai Bisnis Media Modern Dibahas

JAKARTA Ruang idealisme yang mengedepankan sikap kritis, membangun dan memberikan solusi dalam setiap problem, menjadi arah Serikat Media Siber Indonesia, yang lebih modern. Tapi prioritas bisnis di dalam media jurnalistik, tidak bisa ditinggalkan. Karena sektor ini menjadi ruh, pendukung utama kelanjutan media yang profesional. Penegasan ini disampaikan Ketua SMS Pusat Firdaus dalam dialog dengan Sekretaris Dewan Penasehat SMSI Abdul Aziz dan anggota Dewan Penasehat Ervik Ari Susanto, dalam dialog di Trans Corp Tower, Jalan Tendean, Jakarta, Kamis (12/3). ”Siklus perubahan terus terjadi. Aktivitas jurnalistik di era Industri 4.0 dan Society 5.0 menuntut inovasi. Tidak hanya kecepatan, ini yang menjadi tantangan ke depan. SMSI tentu tidak hanya terjebak dalam sebuah organisasi yang melakukan kegiatan rutin. Tapi ada aspek manfaat bagi media yang tergabung dalam wadah ini,” tutur Firdaus. Ditambahkan Firdaus, SMSI Pusat tentu sangat mengedepankan kebersamaan dan kemajuan media. SMSI juga ingin membuat SMSI solid sebagai sebuah organisasi, lewat berbagai aktivitas yang harus diimplementasikan.”Ya harus ada wujudnya. Dari pendidikan dan pelatihan, mesti menjadi sebuah aktivitas yang melekat bagi SMSI,” terang pria berkacamata ini. SMSI Pusat pun terbuka, dengan hadirnya saran, kritik maupun masukan sebagai upaya memperbaiki SMSI. ”Apa pun namanya, itu hal positif. SMSI harus welcome, terbuka. Dan kami pun tidak ingin menggurui teman-teman SMSI di daerah tentang cara membuat media di era digital. Tapi kami ingin sama-sama belajar dengan teman-teman SMSI di daerah dalam mengembangkan bisnis dan good jurnalism," urai Firdaus, diamini Ketua Bidang Pendataan dan Verifikasi SMSI Wilson Lumi. Dalam perbincangan santai, akrab dan hangat ini, Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri SMSI Delianur menambahkan dengan berubah yang makin cepat, kita tidak hanya harus mengerti bagaimana kondisi itu terjadi karena perubahan terus bergerak. ”Yang terpenting mengerti apa yang harus dilakukan di tengah perubahan drastis sekarang,” imbuhnya. Tantangan media siber ke depan, sambung Delianurmakin kompleks. ”Banyak masalah baru yang harus dijawab juga dengan cara baru. Kita harus menghindarkan diri menjawab permasalahan baru dengan cara lama," ungkapnya. Abdul Aziz sendiri sepakat dengan beberapa hal yang dibahas. Terlebih dengan konsep yang telah disampaikan. ”Anggota SMSI harus mulai bisa merumuskan model bisnis dari media yang dikelolanya. Merumuskan model bisnis media menjadi sangat penting. Karena model bisnis itulah yang akan menjadi guidance insan media dalam menjalankan aktivitasnya," tutur Dirut Detik Network ini. Abdul Aziz juga mengingatkan jika ada map atau guidance, jelas langkah semakin terarah. ”Ya jalannya akan semakin terukur. Jalannya menjadi sangat jelas. Tapi harus diingat, guidance itu mesti adaptif terhadap perubahan dan kondisi. Dulu guidance berubah setiap lima tahun, selanjutnya tiap tiga tahun, lalu tiap setahun. Sekarang perubahannya bisa tiap enam bulan dan bahkan setiap saat," urainya. Nah, komitmennya untuk bersama-sama membangun SMSI dari Sabang sampai Merauke, lanjut Azis merupakan modal yang sangat kuat dan bernilai. ”Ini kuncinya, kalau ada hubungan yang erat dan kuat, dilanjutkan dengan inovasi yang terus dilakukan. Saya menjamin SMS makin kuat, baik dari sisi idealisme jurnalism, maupun secara bisnis,” pungkasnya. (rls/fin/ful)

Sumber: