Jangan Berstigma Negatif

Jangan Berstigma Negatif

JAKARTA - Pemerintah melalui Gugas Tugas Penanganan COVID-19 mengimbau agar masyarakat tak memberikan stigma negatif, terlebih mengucilkan pasien penderita COVID-19. Mereka seharusnya mendapat suport atau dukungan moral untuk penyembuhan. Tim Pakar Gugas Penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito mengatakan, saat ini yang terjadi di masyarakat adalah penilaian negatif pasien COVID-19. Sehingga jika ada yang terjangkit, semuanya langsung menyampaikan tetang pasien. "Sekarang yang terjadi di masyarakat, semua menyampaikan tentang nama siapa yang terkena atau terinfeksi. Apalagi itu pejabat publik dan pandangannya seperti ada stigma," katanya dalam konferensi pers di Kantor Graha BNPB, Jakarta, Rabu (18/3). Dijelaskannya, penyakit COVID-19 disebabkan oleh virus SARS-CoV-2, dan tidak ada hubungannya dengan "perilaku yang negatif". Seharusnya, lanjut Wiku, semua pihak berempati terhadap yang sakit dan mendukung agar yang sakit segera pulih, dan bukan memberikan label negatif kepada penderita COVID-19. "Saudara-saudara kita sekalian yang terkena itu (COVID-19) justru yang harus dibantu. Dan yang terkena juga harus tahu diri bahwa mereka bukan korban dari kegiatan yang negatif, bisa saja mereka terkena tapi mereka harus siap kalau mereka memiliki aktivitas yang harus berinteraksi," ujarnya.

BACA JUGA: Soal Masa Depan Lautaro Martinez di Inter Milan, Ini Kata Zanetti

Tiga warga Depok, Jawa Barat, yang dinyatakan sembuh dari COVID-19 masih belum bisa ditemui warga. Ketua RT 07/10 Perumahan Studio Alam Indah (SAI) Kota Depok, Teguh Prawiro mengatakan tiga warganya masih butuh istirahat untuk memulihkan kesehatan. "Mereka masih butuh istirahat, masih belum bisa menerima tamu mungkin kalau mereka sudah siap baru bisa ditemui," katanya. Dikatakannya, mereka juga masih harus memeriksakan diri ke rumah sakit. "Mungkin juga satu minggu ke depan baru bisa ditemui media," katanya. Teguh juga menyebut ketiganya belum melakukan aktivitas di luar rumah. "Masih ada di rumah lagi istirahat belum ada kegiatan di luar rumah," katanya. Sementara itu Kepala Dinkes Kota Depok, Novarita menambahkan meski telah dinyatakan sembuh, pasien 1, 2, dan 3 tetap akan dipantau kesehatannya selama tujuh hari. Mereka juga diminta membatasi aktivitas di luar rumah bersama warga setempat untuk sementara. “Mereka akan dipantau oleh petugas Puskesmas yang mendirikan posko kesehatan setempat. Pesan dari RSPI Sulianti Saroso, keduanya masih harus menggunakan masker saat beraktivitas dan berinteraksi dengan warga,” katanya. Dia juga mengimbau agar pasien 1,2 dan 3 juga tetap menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Termasuk mengkonsumsi makanan sehat dan bergizi, serta mengurangi interaksi dengan warga. “Mudah-mudahan selama sepekan ke depan keduanya bisa kembali beraktivitas seperti semula,” katanya.

BACA JUGA: Cegah Penyebaran Corona, Arab Saudi Tunda Salat Jumat

Dalam video dokumen Ratri Anindyajati yang disebar BBC Indonesia, pasien 01 tersebut mengaku sangat senang bisa berkumpul kembali bersama keluarga di rumah. Ratri juga mengatakan masih fokus pada penyembuhan. "Kita bertiga sudah berkumpul di rumah. (kami) Masih fokus penyembuhan,, jadi harus istirahat. Anjuran dokter harus tinggal di rumah selama 7-14 hari ke depan," kata wanita yang mengaku sebagai manajer seni tersebut. Ditambahkan sang adik, Sita Tyasutami bahwa saat ini yang dilakukan paska isolasi di rumah sakit adalah banyak istirahat dan berjemur. "Selama di rumah yang paling penting dilakukan adalah berjemur pagi hari. Karena selama isolasi tak pernah lihat matahari. Di antara kita bertiga, saya yang paling lemah dan harus ikuti proses penyembuhan. Saya harus banyak istirahat dan banyak tidur," katanya. Diketahui, pasien 01 dan pasien 02 adalah anak dan ibu yang pertama kali dinyatakan terpapar virus corona. Kedua warga asal Depok, Jawa Barat itu tertular dari warga negara asal Jepang yang sempat mendatangi Indonesia. Usia pasien 01 adalah 31 tahun, sementara pasien 02 berumur 64 tahun.(gw/fin)

Sumber: