Guru SD Wajib Lulusan PGSD

Guru SD Wajib Lulusan PGSD

PALEMBANG - Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Palembang bakal mengambil kebijakan melarang keras seluruh Sekolah Dasar (SD) mengangkat guru honorer yang bukan lulusan PGSD. Kepala Disdik Kota Palembang H Ahmad Zulinto SPd MM menerangkan guru SD, hampir 80 persen berasal dari tenaga honor. "Jumlah guru honorer di Palembang sebenarnya masih kurang meski sudah cukup banyak, namun kami meminta perekrutan guru honorer benar-benar berkompeten di bidangnya," terangnya, kepada koran ini, kemarin. Pasalnya saat ini banyak guru honorer SD di Kota Palembang memiliki latar belakang pendidikan tak linier. Mulai dari sarjana ekonomi, hukum, pertanian, dan lainnya.

BACA JUGA: Ijtima Ulama di Gowa Dibatalkan, Ribuan Peserta Diisolasi

Karenanya, Zulinto mengaku dalam waktu dekat akan membuat surat edaran kepada sekolah yang mau mengangkat guru honorer harus berasal dari jurusan PGSD. Bagi guru yang sudah terlanjur mengajar, pihaknya memberi tenggat waktu dua tahun untuk menyelesaikan studi guru melanjutkan kuliah PGSD. Namun, edaran tersebut tak berlaku untuk guru honorer agama dan penjaskes mengajar. "Jika dalam dua tahun tidak mengambil paket PGSD misalnya di Universitas Terbuka 1,5 tahun maka kita evaluasi bagaimana nanti," terangnya. Menurutnya, kebijakan ini diambil bukan hanya alasan banyak guru tak linier juga banyak guru honorer yang tak bisa ditampung dana Bosnas karena belum memiliki NUPTK. Plt Kepala Disdik Sumsel, Drs H Riza Fahlevi MM mengatakan berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 46 Tahun 2016 terkait Penataan Linieritas Guru Bersertifikat, pihaknya akan mendata semua guru honorer baik itu guru produktif tingkat SMA dan SMK yang tidak linier.

BACA JUGA: Stimulus Jilid III Sektor Kesehatan Siap Digelontorkan

"Dalam waktu dekat ini demi terlaksananya mutu pendidikan yang lebih baik kita segera data ulang guru yang linier dan tidak linier," ucapnya. Bagi guru yang tidak linier diwajibkan kuliah sesuai mata pelajaran tempat mereka mengajar. "Jika guru mengajar tidak linier apa jadinya peserta didik yang menimba ilmu, sedangkan gurunya linier saja siswanya kadang belum tentu bisa menerima materi yang diberikan," terangnya. Riza menerangkan, upaya linierisasi tenaga pendidik bahu-membahu bukan hal baru. Itu berjalan sejak aktivitas sertifikasi guru. Makanya penempatan guru harus sesuai bidang ilmunya. "Kalau dia guru mengajar Matematika jangan ditugaskan mengajar Biologi, harusnya mereka tetap mengajar Matematika agar ilmu yang diberikan ke siswa itu maksimal,” tandasnya. (nni/fad)

Sumber: