Fasilitas Penanganan Covid-19 Jauh dari Kebutuhan Ideal

Fasilitas Penanganan Covid-19 Jauh dari Kebutuhan Ideal

JAKARTA – Pemerintah diminta memperbanyak tempat untuk melakukan tes uji virus Corona (COVID-19). DPR RI menilai fasilitas yang saat ini disiapkan pemerintah masih jauh dari kebutuhan ideal. Dikhawatirkan, virus ini menyebar dengan tidak diimbangi persiapan pemerintah. Hingga kemarin, diketahui ada 309 kasus positif Covid-19, dengan jumlah 25 orang meninggal dunia. Sedangkan 15 orang dinyatakan sembuh. Menanggapi hal tersebut, Anggota Komisi IX DPR RI Anggia Erma Rini mengatakan angka itu menjadikan Indonesia sebagai negara yang persentase kematiannya cukup tinggi di dunia akibat Corona. "Ini tidak main-main. Tindakan cepat, tepat, dan efektif harus diambil pemerintah jika tidak ingin beberapa hari ke depan ledakan kasusnya kian serius," tegsa Anggia, di gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (19/3). Legislator Fraksi PKB itu mengingatkan sampai ini masih banyak alat pelindung diri (APD) yang kosong di rumah sakit. Belum lagi, ruang isolasi rumah sakit yang sudah overload. Pelaksanaan tes juga lambat. Anggia meminta ketersediaan Alat Perlindungan Diri (APD) diprioritaskan pemerintah. Menurutnya, APD vital karena dokter dan perawat di garda depan penanganan pasien positif COVID-19. Kebutuhan ruang isolasi juga amat mendesak. Kemarin ada salah satu pasien dari Ciputat, Tangerang Selatan mengalami sesak napas, belum mendapat tempat. Karena RS rujukan penuh semua. "Tidak ada waktu lagi. Pemerintah harus gerak cepat melakukan tes sesegera mungkin agar tahu statusnya. APD harus jadi skala prioritas," imbuhnya. Selain itu, dia juga meminta agar dilakukan tes secara masif. "Karena positif COVID-19 di antara kita masih belum kelihatan. Jangan sampai seperti Iran, yang tiba-tiba membludak akibat lambatnya tes dan pencegahan sejak awal," ucapnya. Anggia menganalogikan upaya pencegahan dan antisipasi COVID-19seperti berperang dengan musuh yang tidak terlihat. "Kunci penanganan ada dua. Pertama, tes supaya musuh kelihatan. Kedua, edukasi supaya saling menjaga,” paparnya. Dikatakan, dua kunci utama ini harus menjadi langkah utama pemerintah saat ini. Masyarakat perlu terus disadarkan akan pentingnya saling menjaga satu sama lain. “Kita tidak tahu virus ini sedang berada di mana, menempel pada apa, dan kapan penularannya. Yang bisa dilakukan adalah saling mengingatkan terus agar rutin cuci tangan, hidup bersih dan sehat. Mengikuti etika batuk dan bersin. Di sisi pemerintah dan pelayanan kesehatan, tes sangat urgen dilakukan agar antisipasinya lebih dini," tutur Anggia. Hingga saat ini, banyak pasien yang harusnya dalam pengawasan tidak dapat tempat. Hal ini harus segera diatasi. Tidak bisa penanganannya hanya bersifat standar saja. Menyangkut soal pembiayaan, Anggia meminta agar masyarakat yang melakukan tes, dan pasien yang dirawat, baik berstatus ODP dan PDP dapat dibebaskan dari pembayaran. "Ini tanggung jawab negara. Pandemi ini amat serius dan butuh kebijakan-kebijakan serius pula. Jangan bayar dan harus gerak cepat, tepat, dan akurat," urainya. Terpisah, Ketua DPR RI Puan Maharani meminta pengelola rumah sakit swasta untuk berpartisipasi maksimal membantu pencegahan dan penanggulangan virus Corona. "Khusus untuk pengelola rumah sakit swasta, saya mengimbau, sekarang ini saatnya membantu sesama dengan berpartisipasi optimal membantu pencegahan dan penanggulangan COVID-19," tegas Puan. Dia membuka opsi untuk menggunakan gedung-gedung milik swasta yang sudah tidak terpakai untuk difungsikan sebagai rumah sakit sementara. Hal ini semata untuk meningkatkan fasilitas pelayanan bagi pasien kasus positif virus Corona. Politisi Fraksi PDI Perjuangan ini juga meminta pemerintah fokus menyelamatkan dan menjaga kesehatan masyarakat atas merebaknya Corona yang telah menjangkiti lebih dari 300 orang di seluruh Indonesia. Puan meminta seluruh masyarakat tidak bersikap egois dan acuh terhadap wabah virus Corona yang mematikan ini. Egois yang dimaksud adalah sikap mau selamat sendiri. Ia mengingatkan masyarakat, Indonesia merupakan bangsa yang lahir dan besar lantaran selalu mengatasi tantangan dengan semangat gotong royong sebagai semangat asli Indonesia. Dia mendorong masyarakat mengikuti anjuran pemerintah dengan menjalankan gerakan masyarakat hidup sehat. Masyarakat memiliki peran penting dalam memutus rantai penyebaran virus Corona. Yang terpenting adalah praktik social distance atau menjaga jarak antar individu dan mematuhi protokol penanganan wabah Corona. Puan meyakini pada akhirnya bangsa ini akan melewati tantangan wabah virus Corona. (khf/fin/rh)

Sumber: