Rupiah Tembus Rp16 Ribu, Rugikan Industri Tekstil

Rupiah Tembus Rp16 Ribu, Rugikan Industri Tekstil

JAKARTA - Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) tembus Rp16 ribu bakal mengancam kelangsungan importir dan perusahaan yang melakukan transaksi dengan Dolar AS, salah satunya industri tekstil. Kemarin, (19/3), dari mesin Google disebutkan Rupiah telah menyentuh level Rp16 ribu. Sementara dari data perdagangan RTI, Rupiah menyentuh di posisi Rp15.880. Dalam situs resmi Bank Indonesia, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR tercatat nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS menyentuh posisi Rp15.712. Sedangkan di situs resmi Bloomberg rupiah berada di Rp15.315 per dolar AS. Adapun setelah ditelusuri, ternyata data yang disediakan Google, bukanlah yang sudah diverifikasi. Hal itu disampaikan oleh Google. Kendati demikian, pelemahan Rupiah atas Dolar AS tersebut bila dibiarkan bakal memukul berbagai sektor perekonomian nasional. Kekhawatiran itu disampaikan oleh pengusahan yang tergabung Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API). Pasalnya, bila pelemahan Rupiah tak dapat dibendung, maka pelaku tekstil akan menghentikan sementara produksinya sampai kondisi normal kembali. Pelemahan Rupiah akan membuat biaya bahan baku menjadi bengkak karena sebagian besar bahan baku tekstil diperoleh melalui impor. Pengusaha sendiri bisa saja untuk menaikkan harga jual, namun saat ini daya beli masyarakat sedang rendah. Karenanya, pilihannya adalah menghentikan kegiatan produksi untuk sementara waktu. Sebab bila dipaksakan produksi dikhawatirkan produk yang dihasilkan tak terserap masyarakat lantaran harganya yang melonjak. "Sampai hari ini produksi masih berjalan normal. Tapi kalau hasil produksi tidak terserap, ujung-ujungnya juga harus berhenti produksi juga, realistis saja," ujar Ketua Umum API Jemmy Kartiwa, Kamis (19/3). Sejak terjadi perang dagang antara Cina dan AS, pelemahan ekonomi global disusul dengan mewabahnya virus corona telah menurunkan daya beli masyarakat. "Daya beli lemah, dan ekspor pun sekarang lagi bermasalah karena buyer minta hold delivery," kata dia. Melemahnya Rupiah atas Dolar AS, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, penyebab utamanya adalah terjadi kepanikana para investor akibat penyebaran virus corona atau Covid-19 yang masih hingga 159 negara di dunia. "Investor global sedang menghadapi tekanan yang tinggi, kita memantau bagaimana dow jones anjlok, bahwa premi risiko sangat tinggi dan kita menghadapi semua negara menghadapi," kata Perry di kantornya, Jakarta Pusat, Kamis (19/3). Menurutnya, adanya ketidakpastian global ditambah covid-19 ini sehingga investor melepaskan banyak asetnya di pasar keuangan dan modal. "Cash is king, bukan karena masalah fundamental, tetapi memang cenderung kepanikan. Itu premi risiko menyebabkan tekanan yang ada sekarang," tutur dia. Upaya yang dilakukan BI sendiri untuk menstabilkan Rupiah adakah melakukan beberapa jurus di antaranya memastikan mekanisme pasar terjaga, likuiditas terjaga, dan triple intervension. "Kami pastikan bagaimana penentuan nilai tukar di pasar itu konvergen. Dari pagi sampai sore BI selalu ada di pasar. Menjaga confidence, ini yang ingin kami sampaikan kepada pelaku pasar bahwa BI berada di pasar," ucap dia. Terpisah, ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Nailul Huda mengatakan, pelemahan Rupiah bakal memukul industri yang bertumpu pada bahan baku dari impor. "Sektor industri yang mengandalkan bahan baku dari impor pasti akan terkena dampaknya. Termasuk industri tekstil," ujar dia kepada Fajar Indonesia Network (FIN), kemarin (19/3). Sebagai upaya penguatan Rupiah, kata dia, yang harus dilakukan pemerintah pertama-tama cadangan devisa (cadev) harus dimanfaatkan untuk menguatkan Rupiah terhadap Dolar AS. "Cadev harus dihitung ulang untuk menggelontorkan Dolar AS di pasar uang. Langkah pertamanya itu saja dulu," kata dia. Dikatakan dia, pelemahan Rupiah akan membuat para pelaku usaha akan melakukan penyesuaian harga jual hingga 30 persen dari harga normalnya. "Beberapa perusahaan sudah mulai melakukan penyesuaian harga jual antara 10-15 persen, bahkan bila tembus di atas Rp16.000 tentunya bisa terjadi penyesuaian harga di atas 20-30 persen," ucap dia. Namun bila penyesuaian harga jual tak diikuti dengan daya beli bisa berbahaya bagi pelaku usaha. Bila kondisi ini tak mampu dikendalikan bakal berakibat laju inflasi pada bulan Ramadhan hingga Lebaran 2020 mendatang. Untuk itu, dia mengimbau pemerintah untuk segera mengambil langkah cepat terkait hal tersebut seperti memberi stimulus pada sisi supply hingga insentif kepada pengusaha.(din/fin)

Sumber: