BI Turunkan Lagi Suku Bunga Acuan 25 Persen

BI Turunkan Lagi Suku Bunga Acuan 25 Persen

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) kembali menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 persen. Penurunan ini sebagai langkah untuk inflasi tetap konsisten dan preemptive meningkatkan perekonomian nasional di kisaran 5 persen. Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, hasil rapat Rapat Dewan Gubernur (RDG) diputuskan untuk menurunkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 basis poin menjadi 4,50 persen. "Selain itu juga menurunkan suku bunga Deposit Facility sebesar 25 basis poin menjadi 3,75 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 basi poin menjadi 5,25 persen," ujar dia di Jakarta, kemarin (19/3). Dengan kebijakan moneter yang akomodatif dan konsisten, dia menyakini bisa mendorong momentum perkembangan ekonomi nasional. Selain itu, dapat menahan penurunan pertumbuhan ekonomi nasional akibat dampak virus corona atau Covid-19.

BACA JUGA: Warga Sakit Setelah Minum Air Kencing Sapi, Aktivis Hindu India Ditangkap

Selanjutnya, kata Perry, ada ada beberapa upaya lain yang dilakukan BI guna memperkuat ekonomi nasional. Pertama, memperkuat intensitas kebijakan triple intervention untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah sesuai dengan fundamental dan mekanisme pasar, baik secara spot, Domestic Non-deliverable Forward (DNDF), maupun pembelian SBN dari pasar sekunder. Kedua, memperpanjang tenor Repo SBN hingga 12 bulan dan menyediakan lelang setiap hari untuk memperkuat pelonggaran likuiditas Rupiah perbankan, yang berlaku efektif sejak 20 Maret 2020. Ketiga, menambah frekuensi lelang FX swap tenor satu bulan, tiga bulan, enam bulan, dan 12 bulan dari tiga kali seminggu menjadi setiap hari, guna memastikan kecukupan likuiditas. Kebijakan ini berlaku efektif sejak 19 Maret 2020. Keempat, BI memperkuat instrumen Term Deposit valuta asing guna meningkatkan pengelolaan likuiditas valuta asing di pasar domestik, serta mendorong perbankan untuk menggunakan penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) valuta asing yang telah diputuskan BI untuk kebutuhan di dalam negeri. Kelima, mempercepat berlakunya ketentuan penggunaan rekening Rupiah dalam negeri (Vostro) bagi investor asing sebagai underlying transaksi dalam transaksi DNDF, sehingga dapat mendorong lebih banyak lindung nilai atas kepemilikan Rupiah di Indonesia. Keenam, memperluas kebijakan insentif pelonggaran GWM harian dalam Rupiah sebesar 50bps yang semula hanya ditujukan kepada bank-bank yang melakukan pembiayaan ekspor-impor, ditambah dengan yang melakukan pembiayaan kepada UMKM dan sektor-sektor prioritas lain. Kebijakan ini berlaku efektif sejak 1 April 2020. Terakhir, memperkuat kebijakan sistem pembayaran untuk mendukung upaya mitigasi penyebaran Covid-19 dengan menjamin ketersediaan uang higienis, mendorong penggunaan pembayaran non-tunai dan mendukung penyaluran dana non-tunai untuk progam pemerintah.

BACA JUGA: Jaga Jarak di Fasilitas Pelayanan Publik

Kebijakan penurunan suku bunga yang dikeluarkan BI, Menteri Koordinator BiDang Perekonomian Airlangga Hartarto, berharap seluruh perbankan dapat segera menyesuaikan suka bunga kredit sesuai keputusan BI. "Yang paling penting transmisi dari BI ke perbankan itu dipercepat, karena sekarang BI Rate sudah turun tapi transisi di perbankannya masih belum turun," kata Airlangga di Jakarta, Kamis (20/2). dengan penurunan suku bunga perbankan, dia meyakiniinvestasi nasional akan kembali menggeliat. Itu karena para investor mengincar suku bunga acuan perbankan yang rendah untuk menyalurkan modalnya. "Tentu ini kesempatan untuk investasi karena kan investasi membutuhkan waktu dua sampai tiga tahun, capital market tingkat suku bunga yang sedang turun," ujar dia. Terpisah, Ekonom CORE Indonsia Piter Abdullah mengatakan, di tengah perlambatan ekonomi, geopolitik global disusul dengan mewabahnya virus corona atau Covid-19 yang semakin meluas di seluruh negara di dunia harus didukung dengan kebijakan moneter yang lebar. "Ya, untuk menahan perlambatan ekonomi diperlukan support kebijakan moneter yang longgar," ujar dia kepada Fajar Indonesia Network (FIN), kemarin (19/3). Sebelumnya, Chief Economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro mengungkapkan, masih terdapat ruang untuk menurunkan suku bunga BI sebanyak 25 basis poin menjadi 4,5 persen. "Kebijakan ini untuk mengantisipasi risiko perlambatan ekonomi global akibat penyebaran virus Covid-19 dan dampaknya kepada pertumbuhan ekonomi nasional tahun ini," kata dia.(din/fin)

Sumber: