Alamak! Pertumbuhan Ekonomi Nasional Bakal 0 Persen

Alamak! Pertumbuhan Ekonomi Nasional Bakal 0 Persen

JAKARTA - Penyebaran virus corona atau Covid-19 di Indonesia belum ada tanda-tanda akan berakhir. Bahkan korban meninggal, maupun terinfeksi pandemi corona ini terus bertambah. Kemungkinan besar, wabah ini masih bakal berlangsung lebih dari tiga bulan, alhasil perekonomian nasional bisa melemah sampai 0 persen. Hal itu disampaikan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani dalam konferensi pers live streaming seusai rapat terbatas bersama Presien Joko Widodo (Jokowi) dengan tema Kebijakan Fiskal & Moneter Untuk Penangahan Dampak Covid-19, Jumat (20/3). Lanjut bendahara negara itu mengatakan, penyebaran virus corona di Tanah Air terbilang cukup berat, sehingga diperkirakan virus ini masih 'meneror' masyarakat lebih dari tiga bulan hingga enam bulan. Bahkan, kebijakan lockdown kemungkinan besar bisa terjadi. "Serta tadi perdagangan internasional bisa drop di bawah 30 persen sampai dengan tadi beberapa penerbangan yang mengalami drop hingga sampai 75 persen sehingga 100 persen, maka skenarionya bisa menjadi lebih dalam. Pertumbuhan ekonominya bisa mecapai di antara 2,5 persen bahkan sampai ke 0 persen," ujar dia. Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini sebelumnya telah membuat beberapa skenario terkait penanganan dampak covid-19 baik jangka pendek maupun panjangnya. Mulai dari pedagangan internasional, penerbangan dan hotel, konsumsi rumah tangga, hingga kesehatan.

BACA JUGA: Jack Ma Kirim 1 Juta Masker untuk Perancis

Bank Indonesia (BI) memprediksi perlambatan pertumbuhan ekonomi akan terus terjadi sampai Mei 2020. Pemulihan akan berlangsung selama enam bulan selanjutnya. "Kemungkinan masih akan berlangsung di bulan April dan sebagian Mei," kata Gubernur BI Perry Warjiyo. Prediksi BI ini sejalan dengan penetapan kondisi darurat yang ditetapkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada 29 Mei 2020. Perry mengaku, semula dirinya tidak memperkirakan penyebaran virus Corona sangat masif. "Sebulan yang lalu kita semua belum memahami, mengetahui dan mendapatkan informasi bahwa penyebaran covid-19 di negara maju khususnya Amerika Serikat dan Eropa demikian cepatnya," ucap dia. Penurunan ekonomi yang cukup dalam ini dikhawatirkan para nelayan. Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) meminta pemerintah dalam hal ini Presiden Jokowi untuk memberi perhatian terhadap nasib nelayan kecil dan pelaku suah perikanan lainnya yang terdampak wabah virus corona. "Skenario kebijakan kelautan dan perikanan jangka pendek dan menengah perlu segera disusun pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah. Mengingat pelambatan ekonomi dan dampak Covid-19 sudah mulai terasa bagi nelayan," ujar Ketua Harian KNTI Dani Setiawan dalam keterangannya, kemarin (20/3). Dia mencatat, ada lima skenario yang harus segera dibuat pemerintah terhadap keberlangsungan nelayan. Pertama, mengatasi penurunan ekspor komoditas perikanan tangkap maupun budidaya akibat penutupan atau pengurangan permintaan dari negara-negara yang terkena dampak virus corona. Kedua, ia mengimbau untuk segera membuat skema guna menstabilkan harga ikan di tingkat lokal yang harganya turun akibat melimpahnya pasokan ikan efek terganggunya keran ekspor.

BACA JUGA: Antisipasi Corona, Siswa Madrasah Diliburkan

Skenario ketiga, yakni meberikan stimulus untuk menjaga daya beli masyarakat, khususnya terhadap 18 jenis ikan konsumsi seperti kembung, tongkol, layang, udang, dan kakap. Kemudian yang keempat, terkait pelonggaran pembayaran kredit bagi usaha-usaha perikanan skala kecil dan menengah serta memperkuat skema permodalan usaha berbiaya murah. Terakhir, menyusun program jaring pengaman yang efektif bagi nelayan dan pembudidaya skala kecil dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari sebagai antisipasi penurunan kinerja ekonomi yang semakin dalam ke depan. Menurut Dani, kebijakan kelautan dan perikanan haruslah menunjang kebutuhan dari nelayan skala kecil dan tradisional. Ini didasarkan lantaran 96 persen nelayan Indonesia adalah nelayan skala kecil dan 80 persen produksi hasil tangkapan nelayan kecil dan tradisional adalah untuk konsumsi domestik. "Kenyataan Ini mengindikasikan bahwa keberadaan nelayan skala kecil berperan sangat penting untuk menunjang kebutuhan pangan nasional," ujar dia. Terpisah, peneliti dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Nailul Huda berharap pertumbuhan ekonomi bisa naik dari 0 persen. Akan tetapi, jika sampai dilakukan lockdown dalam waktu yang lama posisi pertumbuhan ekonomi bisa 0 persen. "Jika social distancing dilakukan dalam jangka waktu yang lama apalagi sampai lockdown, pertumbuhan ekonomi 0 persen tidak bisa kita elakkan," kta dia kepada Fajar Indonesia Network (FIN), Jumat (20/3). Kendati demikian, jauh yang terpenting menurutnya yang utama dilakukan pemerintah memprioritaskan kesehatan masyarakat agar tak bertambah korban jiwa maupun terinfeksi positif virus corona. "Enggak apa-apa (pertumbuhan ekonomi 0 persen) yang penting kesehatan dan keselamatan masyarakat menjadi yang utama. Tapi kita berharap bisa tumbuh lah jangan sampai 0 persen ataupun minus," pungkasnya. Korban terinfeksi positif virus corona sampai dengan kemarin (20/3) sore, bertambah menjadi 369 orang. Dari jumlah itu sebanyak 32 orang meninggal dunia, dan 17 orang dinyatakan sembuh.(din/fin)

Sumber: