Pengguna Angkutan Umum Anjlok 70 Persen

Pengguna Angkutan Umum Anjlok 70 Persen

JAKARTA - Kebijakan pembatasan sosial (social distancing) dan bekerja di rumah (work form home) tercatat menurunkan pengguna moda transportasi umum hingga 70 persen. "Penurunan pengguna jasa transportasi publik mencapai 40 sampai 70 persen," ujar juru bicara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Adita Irawati di Jakarta, Jumat (20/3). Dia menilai, upaya pemerintah untuk mengurangi mobilitas masyarakat sebagai bagian pencegahan dan penanganan mewabahnya virus corona atau Covid-19 yang masif di wilayah Indonesia ini terbilang berhasil. Sebagaimana imbauan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan sejumlah pejabat lain agar masyarakat untuk sementara berdiam diri di rumah dan menghindari keramaian. Hal itu dilakukan untuk mengurangi atau menyetop penyebaran Covid-19.

BACA JUGA: Tetap Waspada Laksanakan Salat Jumat

“Segala upaya ini diharapkan dapat membantu secara signifikan upaya pencegahan penyebaran virus Covid-19,” kata Adita. Upaya ini, lanjut dia, bukan hanya diterapkan di DKI Jakarta saja. Akan tetapi, Kemenhub juga melakukan koordinasi dengan Dinas Perhubungan di daerah-daerah sama seperti di Ibu Kota Jakarta menerapkan pembatasan sosial di fasilitas transportasi umum. Dia menegaskan, penerapan pembatasan penggunaan trasportasi publik berlaku di seluruh angkutan publik, baik darat, laut, maupun udara. “Kami menjalankan arahan presiden untuk menerapkan secara ketat, pembatasan sosial di area-area publik yakni di bandara, pelabuhan, stasiun kereta api, dan terminal bus untuk mencegah penularan Covid-19,” tutur dia. Menurut dia, tanpa dukungan dari seluruh operasi transportasi di seluruh Indonesi kebijakan yang dikeluarkan tak akan optimal. Adapun langkah-langkah yang dilakukan Kemenhub antara lain penyemprotan sarana dan prasarana angkutan publik, menyediakan hand sanitizer, mengukur suhu petugas maupun penumpang, dan mengatur penyusunan tempat duduk penumpang serta menyediakan masker bagi penumpang yang sedang batuk atau flu. Langkah lainnya, antrean penumpang juga diatur agar terjaga jaraknya di area pelabuhan, bandara, stasiun, dan terminal bus.

BACA JUGA: Wali Kota Bogor Bima Arya dan Seorang Pejabat Positif COVID-19

“Langkah berupa pengurangan jumlah penumpang dalam satu gerbong kereta api misalnya hingga minimal 50 persen pun telah dijalankan,” ungkap Adita. Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengakui sejak diberlakukan social distancing penumpang Garuda mengalami penurunan. Namun, sampai saat ini Garuda belum mengurangi jumlah operasinal pesawat. “Kita monitor secara dinamis, kalau diperlukan kita kurangi frekuensi namun tetap menyediakan layanan ke kota-kota yang kita terbangi,” kata Irfan. Sementara itu, Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi menilai, imbauan pemerintah soal social distancing cukup efektif untuk mengurangi dampak penyebaran virus corona. Oleh karena itu, ia mengimbau agar masyarakat dapat mematuhi imbauan tersebut dengan sebaik mungkin. "YLKI meminta masyarakat untuk secara sungguh-sungguh melakukan isolasi mandiri, dengan cara tetap tinggal di rumah dan konsisten melaksanakan social distancing, kalau diperlukan aktivitas di luar rumah," kata Tulus dalam keterangannya, Jumat (20/3). Selain itu, Tulus mengingatkan masyarakat harus menjaga kondisi kesehatan secara konsisten. Tak hanya melakukan olahraga rutin, tetapi juga menghentikan sementara kebiasaan merokok. "Seorang perokok lebih berisiko terpapar Covid-19 karena mengalami masalah pada saluran pernapasannya," ujarnya. Dia juga secara khusus meminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan pemerintah pusat untuk melarang pertemuan yang melibatkan konsentrasi massa, misalnya hajatan, pernikahan, hingga kegiatan ibadah yang berkumpul di suatu tempat. (din/fin)

Sumber: