Jamin Keselamatan Relawan Medis

Jamin Keselamatan Relawan Medis

JAKARTA - Pemerintah diminta untuk menjamin keselamatan relawan medis dalam upaya menangani mewabahnya COVID-19. Untuk mempercepat mendapatkan relawan medis, Pemerintah diminta untuk menggandeng akademi keperawatan dan fakultas kedokteran perguruan tinggi negeri dan swasta. Ketua Komisi X DPR Syaiful Huda meminta pemerintah menggandeng akademi keperawatan dalam merekrut relawan penunjang medis penanganan pasien COVID-19. "Kami menyarankan agar pemerintah bekerja sama dengan akademi-akademi keperawatan untuk mencari relawan penunjang tenaga medis rumah sakit darurat COVID-19. Mahasiswa keperawatan di tingkat akhir bisa didorong untuk mendaftarkan diri," ujarnya di Jakarta, Minggu (22/3).

BACA JUGA: Wawancara Dimuat di Facebook, Perdana Menteri Italia Terlihat Panik

Dia juga mengatakan rekrutmen tenaga medis harus disertai dengan jaminan keselamatan. Ketersediaan Alat pelindung diri (APD) harus benar-benar tersedia, disertai kontrak kerja yang jelas. "Selain itu para mahasiswa kedokteran juga bisa dilibatkan dalam upaya menutupi tenaga medis untuk menangani pasien COVID-19," ujarnya. Senada diungkapkan Wakil Ketua Komisi X DPR Hetifah Sjaifudian. Dia menegaskan keselamatan para mahasiswa yang menjadi relawan adalah yang utama, sehingga sebelum terjun harus dilengkapi dengan APD dan diberikan pembekalan lagi. Disarankannya, para relawan lebih dulu diarahkan sebagai edukator dan komunikator kepada masyarakat, yakni membantu pemerintah mensosialisasikan pencegahan kepada masyarakat, jangan langsung turun ke rumah sakit menangani kasus corona. "Atau para relawan dapat menjadi pengganti sementara para dokter dan tenaga kesehatan yang sedang sibuk menangani pasien terpapar virus coron," katanya. Dia juga meminta Mahasiswa yang bersedia menjadi relawan akan diberi insentif dan sertifikat dari Pemerintah, untuk menjadi bagian dari penilaian kinerja dalam program Co-As atau sebagai satuan kredit semester.

BACA JUGA: Isolasi Mandiri, Maudy Ayunda Jadi Suka Masak

Saat ini, para dokter dan tenaga kesehatan sedang sibuk dengan merebaknya virus corona, padahal kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan terus ada dengan berbagai jenis penyakit. "Mungkin para mahasiswa yang sedang Co-As ini bisa dikerahkan sesuai kemampuannya, misalkan membuka konsultansi untuk menangani keluhan penyakit ringan. Tidak ideal memang, tapi ini darurat. Serahkan ke kampus yang lebih memahami sejauh mana kemampuan mahasiswanya," ucapnya. Sementara itu, Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI) Andre Rahadian mengatakan kegiatan relawan penanganan COVID-19 dapat dijadikan praktik kerja bagi mahasiswa tingkat akhir. "Kita juga mengundang bukan hanya dokter, tapi juga mahasiswa tingkat akhir sesuai dengan instruksi dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bahwa ini bisa dianggap sebagai praktik kerja," katanya. Andre juga mengajak seluruh masyarakat yang ingin bergabung sebagai relawan serta mendukung logistik untuk penanganan kesehatan dan bantuan untuk golongan yang kurang mampu. "Kepada semua relawan untuk menyatukan semua tenaga dan sumber daya untuk membantu penanganan COVID-19 ini," katanya. Dalam menghadapi penyebaran COVID-19, peran pemerintah harus didukung oleh seluruh masyarakat. Bersama dengan pemerintah, para relawan menyatukan semua tenaga dan sumber daya yang ada untuk membantu percepatan penanganan pandemi tersebut di Tanah Air.

BACA JUGA: DARI NATUNA, HERCULES SAMPAI JAKARTA

"Ini diperlukan karena memang kita bermaksud untuk menjaga ketahanan dan kelangsungan dari penanganan COVID-19 ini, di mana tenaga medis ada di gugus depan," ujar dia. Ia mengatakan, semua relawan yang berasal dari alumni perguruan tinggi, organisasi profesi, dan mahasiswa tingkat akhir dapat bergabung sebagai tenaga medis, tenaga administrasi dan menjalankan fungsi lain untuk mendukung tenaga medis menangani COVID-19 di rumah sakit. Bidang pertama, semua masyarakat dari latar belakang rumpun kesehatan seperti kedokteran, keperawatan, fakultas kesehatan masyarakat dan farmasi juga diajak untuk menjadi relawan mendukung ketersediaan tenaga medis. Sedangkan di bidang kedua, relawan yang dibutuhkan juga bisa berperan serta dalam memberikan dukungan logistik untuk penanganan medis mengatasi COVID-19. Bantuan logistik itu dapat berupa makanan bergizi dan vitamin. "Dengan demikian, masyarakat dan relawan bisa bersama-sama dengan Gugus Tugas menyukseskan penanganan kesehatan baik di rumah sakit rujukan maupun rumah sakit darurat Corona," ujar dia. Untuk bidang ketiga, Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 mengajak relawan untuk bersama-sama menangani golongan yang rentan secara ekonomi dalam hal penyediaan dan distribusi dukungan logistik. Bantuan logistik seperti penyaluran makanan sangat diperlukan oleh masyarakat kurang mampu yang terdampak pandemi itu. "Pemerintah dan relawan dapat bersama-sama menyalurkan dan menyebarluaskan bantuan-bantuan yang ada secara cepat dan tepat sasaran kepada masyarakat kurang mampu dan yang membutuhkan," katanya.

BACA JUGA: Mantan Presiden Real Madrid Meninggal Positif Corona

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengalokasikan anggaran sebesar Rp6,1 triliun dalam bentuk asuransi dan santunan kepada tenaga medis yang menangani COVID-19. “Mereka (tenaga medis) ada di depan yang menghadapi risiko paling besar,” katanya dalam rapat koordinasi bersama Menko Perekonomian, BI dan OJK melalui konferensi video di Jakarta, Jumat (20/3). Namun, dia mengatakan desain pemberian santunan dan asuransi kepada tenaga medis itu masih dimatangkan pemerintah. Menkeu menambahkan pemerintah juga masih menghitung besaran dana agar segera bisa diberikan kepastian kepada seluruh tenaga medis baik dokter, dokter spesialis dan perawat atau paramedis. “Namun kami sudah mencadangkan total untuk intervensi ini antara Rp3,1 hingga Rp6,1 triliun,” imbuhnya.(gw/fin)

Sumber: