Soal Penanganan Covid-19, Ilmuan: Indonesia yang Paling Dikhawatirkan

Soal Penanganan Covid-19, Ilmuan: Indonesia yang Paling Dikhawatirkan

JAKARTA- Beberapa Ilmuan merespon kesiapan negara-negara Asia Tenggara dalam menghadapi wabah corona. Mereka menilai, Singapura jauh lebih baik, sementara kekhawatiran justru pada Indonesia. Asisten profesor penyakit menular di National University of Singapore, Clarence Tam menilai, Hong Kong dan Singapura telah menangani wabah corona dengan relatif baik. Itu sebab, wilayah negaranya yang relatif kecil dan memiliki kontrol yang baik pula. Sehingga membuat pelacakan terinfeksi lebih mudah Dia mengatakan, pengalaman mereka pada tahun 2003 dengan epidemi SARS - kedua negara ini sangat terpengaruh- Ini berarti bahwa selama 15 tahun terakhir mereka juga telah berinvestasi dalam infrastruktur untuk menangani jenis wabah ini. Dalam kebijakan sosial distancing, Hong Kong telah menutupi sekolah-sekolah mereka sejak Imlek tahun 2019 lalu. Sementara Singapura tetap membuka. "Untuk COVID-19, saat ini kami tidak tahu berapa banyak anak yang berkontribusi terhadap penularan. Mungkin banyak kasus pada anak-anak yang tidak terdeteksi karena penyakit pada anak-anak cenderung ringan, tetapi kami juga tidak melihat banyak wabah di sekolah," ujar Clarence Tam dikutip The Sydney Morning Herald, Senin (23/3). Dia melanjutkan, selain Singapura, Hong Kong, Taiwan dan Korea Selatan dianggap sukses mengendalikan wabah. Mereka telah melakukan isolasi dan penelusuran kontak dan karantina sejak awal, sehingga epidemi dapat dikendalikan. "Setiap negara yang belum dapat menerapkan langkah-langkah ini dengan cepat, untuk alasan apa pun, berisiko tinggi penularan masyarakat yang tidak terkendali, seperti yang kita lihat sekarang di sejumlah negara Eropa dan AS," ujar Tam. Sementara di Malaysia. Kini menjadi perhatian khusus. Di Malaysia tercatat kenaikan kasus selama lima hari berturut-turut. Kasus dengan angka besar terdapat di pertemuan jamaah di Masjid Sri Petaling pada akhir Februari lalu Namun Tam menilai, sistem kesehatan Malaysia relatif maju, para dokter dan profesornya terlatih dengan baik dan kompeten. "Ini lebih siap daripada banyak negara di wilayah itu untuk menangani wabah, dan penutupan perbatasannya dengan orang asing, sehingga akan menghentikan lebih banyak kasus yang diimpor." Ujar Tam. Malaysia telah memperketat beberapa pemeriksaan di perbatasan. Orang Malaysia tidak bisa bepergian ke luar negeri dan orang asing tidak bisa masuk ke Malaysia. Thailand dan Singapura tidak jauh berbeda. Thailand melarang pengunjung dari beberapa negara Eropa. Sementara Singapura memperlakukan karantina 14 hari untuk para pendatang internasional. Mereka juga juga melarang kedatangan dari negara-negara tertentu yang terserang wabah. Sementara Filipina, telah mulai mengunci seluruh kota termasuk ibukota, Manila. "Kita akan tahu dalam waktu sekitar dua minggu jika langkah-langkah baru dan ketat yang dilakukan oleh Malaysia, maka berhasil memperlambat penyebaran corona." Ujar Tam. Sementara Indonesia, yang memiliki lebih dari 50 kali populasi Singapura. Telah melaporkan sebanyak 49 kasus kematian dan sebanyak 579 terinfeksi pada Senin (23/3), telah menyebabkan kekhawatiran terbesar. Tam menjelaskan, pemerintah Indonesia telah menyangkal masalah selama berminggu-minggu pada awal-awal wabah corona. Dia juga menyinggung Menteri Kesehatan Terawan yang mengklaim doa bisa mencegah wabah corona. Serta Presiden Joko Widodo yang mengkampanyekan pariwisata di tengah wabah. Profesor virologi Universitas Queensland, Ian Mackay menyoroti beberapa tanda peringatan yang datang dari Indonesia. Dia memprediksi situasi wabah corona di Indonesia bisa bisa jauh lebih buruk dari yang dibayangkan. "Ketika Anda melihat banyak kematian dalam waktu singkat (seperti yang terjadi), itu menunjukkan ada beberapa kasus selama beberapa waktu. Juga, kami telah melihat banyak pelancong yang terinfeksi keluar dari Indonesia," ujar Ian Mackay. Sementara itu, Dosen Griffith University Lee Morgenbesser, seorang ahli dalam politik Asia Tenggara, mengatakan dia tidak percaya angka yang dilaporkan oleh rezim. "Ini adalah ujian terhadap sesuatu yang tidak bisa kamu lihat dan kamu hanya punya sedikit kontrol, paling tidak pada awalnya. Yang diuji adalah seberapa transparan dirimu, akuntabel dirimu, dan seberapa efisien sistem yang telah kamu tempatkan," katanya Dia menilai, Singapura lebih berhasil dan telah membuktikan dirinya. Sementara negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara ini, masih mengejar ketinggalan. "Dari semua negara di Asia Tenggara, Indonesia yang paling saya khawatirkan," kata Morgenbesser. "Populasinya sangat besar dan birokrasi yang tidak efisien. Penanganan krisis yang buruk di negara itu akan meninggalkannya terpapar buruk", pungkasnya. (dal/fin).

Sumber: