Badminton: Isolasi Bikin Hepi

Badminton: Isolasi Bikin Hepi

JAKARTA - Pasangan ganda campuran Indonesia, Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti menjadi satunya-satunya wakil Merah Putih yang berhasil meraih gelar juara All England Open 2020 yang berlangsung di Arena Birmingham, Inggris, beberapa waktu lalu. Kepastian pasangan peringkat empat dunia menempati podium tertinggi turnamen level Super 1000 tersebut usai mengalahkan unggulan ketiga asal Thailand, Dechapol Puavaranukroh/Sapsiree Taerattanachai lewat pertarungan rubber game dengan skor 21-15, 17-21 dan 21-8 pada Minggu (15/3) lalu. Hasil itu, sekaligus menambah rekor kemenangan Praveen/Melati atas pasangan ranking tiga dunia itu menjadi 4-2. Bahkan, itu menjadi kemenangan empat kali berturut-turut Praveen/Melati atas Devhapol/Sapsiree sejak pertemuannya di All England 2019 lalu. Namun, raihan juara Praveen/Melati itu sangat berbeda seperti musim-musim sebelumnya. Sebab, Praveen/Melati sukses mengangkat trofi juara All England 2020 ditengah-tengah merebaknya virus Corona atau Covid-19 yang kini telah menjadi pandemik global. Meski merasa khawatir dengan penyebaran virus yang berasal dari Wuhan, China itu. Namun, Praveen/Melati mencoba fokus pada setiap pertandingannya dan berhasil meraih gelar juara berkat kegigihannya di setiap laga. "Khawatir itu pasti ada di tengah wabah Corona begini. Tapi nggak terlalu mikirin ke situ. Lebih fokus ke pertandingan. Saya tetap jaga diri, seperti cuci tangan dan sebagainya," ujar Melati seperti dikutip situs resmi PBSI, Senin (23/3) kemarin. "Waktu di sana sih saya nggak ada rasa khawatir, mungkin karena terlalu fokus ke pertandingan," tambah Praveen yang mengaku tidak terlalu memikirkan penyebaran virus tersebut. Bagi Melati, ini adalah gelar All England pertamanya. Namun buat Praveen, gelar ini merupakan gelar kedua. Sebelumnya Praveen juga menjadi juara All England di tahun 2016 bersama Debby Susanto. "Rasanya pasti senang karena kami bisa membuktikan, di tengah ada virus corona kami bisa jadi juara. Sekarang bisa juara lagi dengan partner berbeda, ini yang membuat saya tambah senang," tutur Praveen. "Rasanya jadi juara All England? Pasti seneng banget dong, ada rasa bangga karena dari dulu pengin banget gelar All England," sambung Melati. Akan tetapi, akibat merebaknya virus Corona ini tak ada penyambutan yang dilakukan pemerintah atau-pun PBSI kepada sang juara tersebut. Kondisi darurat Covid-19 membuat PP PBSI meniadakan acara penyambutan juara All England yang sudah menjadi tradisi selama bertahun-tahun. Meski demikian hal itu tidak menjadi persoalan. "Nggak apa-apa, demi kebaikan semuanya. Memang agak berkurang euforia-nya. Rasanya senang juara tapi ada rasa khawatir," jawab Melati soal penyambutan. "Ya ini juga jadi satu tanggung jawab kami mengikuti aturan untuk kepentingan bersama," tambahnya. Saat ini, Praveen/Melati sendiri sedang menjalani isolasi mandiri di Pelatnas Cipayung. Ya, seluruh tim All England 2020 mulat dari atlet hingga offisial wajib menjalani isolasi selama 14 hari sekembalinya dari Birmingham, Inggris. Dalam menjalani isolasi itu, bukan berarti Praveen/Melati tidak menjaga kebugaran mereka. Mereka megaku tetap menjalankan instruksi pelatih untuk menjga kondisi tubuh agar tetap fit. "Di kamar selama isolasi sih nggak ngapa-ngapain, paling telepon keluarga atau main game. Sama olahraga sendiri saja biar tetap fit badannnya. Karena pelatih minta untuk tetap gerak dan jaga kondisi fisik, dengan stretching di kamar," tehas melati. Meski demikian banyaknya waktu luang selama menjalani isolasi tak bisa dipungkiri bagi mereka untuk bisa berleha-leha. Jika Praveen banyak menghabiskan waktu dengan main game selama isolasi, Melati memilih untuk menonton drama Korea yang menjadi favoritnya saat ini yaitu Crash Landing on You (CLOY). "Di kamar lebih banyak istirahat, makan, tidur, repeat! Ha ha ha. Olahraga sendiri. Selebihnya mungkin nonton CLOY, ha ha ha," ujar Melati sambil tertawa. Disisi lain, Praveen juga menanggapi isu penundaan Olimpiade Tokyo 2020 mendatang. Sejauh ini federasi bulutangkis dunia (BWF) pun masih belum mengumumkan secara resmi mengenai hal ini, termasuk sistem penghitungan poin dari turnamen race to Tokyo yang dibatalkan diantaranya German Open 2020, Swiss Open 2020, India Open 2020, Malaysia Open 2020, Singapore Open 2020 serta Badminton Asia Championships 2020. "Kalau dibilang merugikan ya memang kami sebagai pemain rugi. Tapi ini kan musibah yang dialami dunia, kami nggak bisa apa-apa, demi keselamatan bersama ya," tuntas Praveen. Di kamar selama isolasi sih nggak ngapa-ngapain, paling telepon keluarga atau main game. Sama olahraga sendiri saja biar tetap fit badannnya," ujar pemain asal klub Djarum ini. (gie/fin/tgr)

Sumber: