Awasi Pabrik, Gula Sudah Langka

Awasi Pabrik, Gula Sudah Langka

JAKARTA – DPR meminta pemerintah melalui Kementerian Perdagangan memperketat pengawasan distribusi gula kristal putih untuk mengantisipasi kelangkaan bahan pokok tersebut. Pengawasan di pabrikan juga perlu dilakukan. Ini bertujuan untuk mengetahui pembelian dan pendistribusian yang dilakukan secara detail dan bisa dipertanggungjawabkan. ”Sekarang pendistribusiannya kemana saja. Kemudian di hilir agar lakukan pembatasan pembelian. Harusnya, Kemendag bersama pihak kepolisian memperketat pengawasan pada pabrik, distributor, hingga pedagang,” tegas Anggota Komisi VI DPR Mukhtarudin, Senin (23/3) Anggota DPR dari Partai Golkar menambahkan saat ini kondisi status darurat Covid-19, mengakibatkan semua aspek perlu dilakukan dengan pendekatan darurat. Tidak bisa mengambil untung dari celah yang kondisi bangsa yang tengah dalam masa kritis. ”Awasi dulu, cek pabriknya. Jika memang kondisinya darurat ya terpaksa pemerintah lakukan impor dan operasi pasar. Tapi kita sarankan apa benar, gula ini langka,” tandasnya Mukhtarudin. Ya, gula pasir di sejumlah toko jaringan retail waralaba modern di Jakarta Pusat maupun di sejumlah daerah lainnya mengalami kelangkaan sejak sepekan terakhir. Bahkan pada beberapa gerai, sejak sebulan lalu sudah tidak ada pasokan komoditas itu.

BACA JUGA: Pilot Lion Air Meninggal Dunia, karena Covid-19?

Terpisah Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S. Pane lebih menyoroti peristiwa yang terjadi di Lampung. Terang-terangan ia mengkritik sikap Polda Lampung. ”Harusnya Polda merasa malu dan intropeksi diri setelah Tim Satga Pangan Bareskrim Mabes Polri menemukan adanya indikasi penimbunan gula di wilayah tersebut,” terang Neta S. Pane. Bantahan tersebut, sambung Neta, terasa aneh dan bisa menimbulkan polemik. Untuk itu Tim Mabes Polri perlu bersikap transparan, dengan cara mengungkapkan apa yang ditemukan dan laporkan kepada Kapolri. ”Laporkan segera ke Kapolri. Jika benar yg mereka temukan adalah penimbunan gula,” tegasnya. Pada posisi ini, Kapolri pun harus mengevaluasi jajaran Polda Lampung, termasuk kapoldanya. ”Sikap tegas diperlukan agar jajaran kepolisian tidak membiarkan aksi penimbunan bahan pokok, terutama gula, apalagi saat ini harga gula sedang meroket tinggi,” jelasnya. Pane juga menegaskan, jika fakta dan temuan Tim Satgas Pangan Bareskrim Polri benar adanya, maka Kapolri harus segera mencopot Kapolda Lampung karena bisa dianggap tidak peka dengan situasi di masyarakat dan tidak menjalankan fungsi intelijen hingga penimbunan gula terjadi dan satgas pangan Bareskrim hrs turun ke Lampung. ”Kalau temuan itu benar, Kapolri harus mencopot Kapolda Lampung karena jelas tidak menjalankan fungsinya.Tidak peka dengan situasi!” pinta Neta yang dipertegas lewat pesan WhatsApp. Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Nana Sudjana menegaskan jajarannya terus mendalami dugaan penimbunan terkait kenaikan harga gula di pasaran. ”Memang data yang kami dapat gula ada kenaikan, ini akan jadi perhatian kami. Satgas Pangan akan melakukan upaya dan penyelidikan langkanya gula, mungkin ada penimbunan atau hal lain. Jelas kita tindak apabila terbukti ada oknum yang mencoba mengambil keuntungan dari kelangkaan gula,” terang Nana. Pengamat Hukum dan Tata Negara Yusdiyanto Alam meyakini Presiden Joko Widodo sudah mengetahui informasi tentang kelangkaan gula. Tentu akibat banyaknya laporan yang masuk terkait kerentanan kondisi pangan di sela wabah Virus Corona. ”Saya yakin sekali. Pak Presiden sudah mengetahui ini. Raja olah itu diduga bermain di tengah kelangkaan gula di sejumlah daerah. Padahal mau Pilkada lho, biasanya komoditas ini dipakai untuk menarik simpati pemilih,” terang Yusdiyanto, kepada Fajar Indonesia Network (FIN).

BACA JUGA: Begini Cara Pemulasaraan Jenazah Korban Virus Corona

Terbukti, sambung Dosen Hukum di Universitas Lampung itu, Presiden sampai harus turun tangan mengecek kondisi Gudang Bulog di Kelapa Gading, Jakarta, Rabu (18/3) lalu. ”Dan terbukti, sinyal kedatangan Presiden pun langsung direspon oleh Kabareskrim Komjen Polisi Listyo Sigit Prabowo. Sejalan dengan langkah Satgas Pangan sudah turun mengecek laporan yang masuk sampai turun ke pasar. Dari hasil data yang didapat, stok gula untuk DKI Jakarta, masih mencukupi hingga Bulan April dan Mei 2020. ”Ya, secara umum untuk stok April sampai Mei harusnya ada,” jelasnya. Di sejumlah lokasi kelangkaan ini pun diakui oleh masyarakat. Wiwi (43) ibu satu anak asal Bogor mengaku bahwa gula pasir sulit ditemukan di toko-toko modern seperti minimarket. Meskipun di pasar tradisional gula curah tersedia namun harga mengalami kenaikan. ”Sejak dua minggu lalu sudah gak ada di minimarket di wilayah Bogor. Di pasar ada tapi harganya naik itupun gula curah. Gula curah yang tadinya harga Rp12.000 per kg sekarang jadi Rp20.000 per kg,” ujar Wiwi kepada Fajar Indonesia Network, Senin (23/3). Hal ini juga dirasakan Mitha (38) warga Citayam, Depok. Ibu dua anak ini mengaku kesulitan mendapatkan gula pasir sejak 1 bulan terakhir sebelum Covid-19 heboh. ”Gula pasir langka sebelum kasus pertama virus corona muncul, sekitar 1 bulanan lah. Di minimarket pada kosong. Saya sampe cari ke Depok,” kata Mitha. Dikatakannya, meskipun di swalayan atau supermarket tersedia, pembelian gula pasir kemasan dibatasi hanya 2 kg per pembeli. Selain dibatasi kuantitasnya, harga gula pasir juga mengalami kenaikan. ”Ada paling di swalayan atau supermarket, itupun dibatasin cuman boleh 2 kg per pembeli. Harganya juga naik dari Rp12.500menjadi Rp18.000 an (supermarket). Kalau di warung (gula curah) dulunya Rp12.000sekarang Rp17.000,” terang Mitha. Bahkan bukan hanya gula yang langka, LPG 3 kg juga sulit didapatkan. ”Gas LPG juga sekarang lagi susah didapat,” katanya. Sementara itu dari pantauan Fajar Indonesia Network dibeberapa minimarket stok gula pasir kemasan kosong. Selain gula pasir, produk masker, hand sanitizer, dan antiseptik cair juga tidak tersedia. Kemudian harga rempah-rempah sebagai bahan dasar jamu seperti jahe, temulawak, kunyit juga mengalami kenaikan. (dim/fin/ful)

Sumber: