Mahasiswa Disiapkan Jadi Relawan

Mahasiswa Disiapkan Jadi Relawan

JAKARTA - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tengah melakukan perekrutan relawan mahasiswa, baik medis maupun non medis dalam menangani pandemi Corona (Covid-19) di dalam negeri. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengatakan, bahwa ajakan atau perekrutan relawan mahasiswa ini bersifat bersifat sukarela tanpa paksaan. "Tidak ada paksaan. Ini adalah gerakan sukarela. Negara membutuhkan pahlawan-pahlawan medis yang berjuang bersama demi masyarakat," kata Nadiem, , Senin (23/3). Nadiem menjelaskan, tugas para relawan nantinya akan fokus untuk melakukan edukasi, pencegahan, dan pengendalian terhadap wabah virus Corona dengan cara memberikan informasi, edukasi, melayani call center kepada masyarakat, serta menyiapkan diri sebagai tenaga bantuan dalam kondisi darurat sesuai dengan kompetensi.

BACA JUGA: Rusia Gunakan Ponsel Untuk Melacak Orang yang Berisiko Terkena Corona

Nadiem menambahkan, mahasiswa yang menjadi relawan akan mendapat pelatihan, insentif dari Kemendikbud, hingga satuan kredit semester (SKS). "Kepada mahasiswa yang berminat untuk ikut serta dalam kegiatan ini akan diberikan pelatihan dan pendampingan, disiapkan alat perlindungan diri (APD) yang sesuai standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), insentif dari Kemendikbud, dan sertifikat pengabdian kepada masyarakat yang dapat disesuaikan oleh universitas masing-masing untuk menjadi bagian dari penilaian kinerja dalam program koas atau sebagai satuan kredit semester," jelasnya Menurut Nadiem, perjuangan melawan virus Corona membutuhkan dukungan dari seluruh masyarakat. Begitu juga peran dari generasi muda yang memiliki bakat di bidang kesehatan. "Kami paham betul bahwa risiko terkait hal ini cukup besar, namun upaya ini tidaklah akan berhasil tanpa dukungan seluruh masyarakat, terutama bagi generasi muda yang memiliki talenta-talenta yang tepat," ujarnya. Nadiem juga mengaku, bahwa Kemendikbud sudah bekerja sama dengan rektor atau direktur politeknik kesehatan untuk mendorong dekan di fakultas rumpun kesehatan untuk melakukan sosialisasi tentang inisiatif ini kepada mahasiswa tingkat akhir atau co-assistant (koas) di kampus masing-masing. "Kemendikbud juga telah berkoordinasi dengan sekitar 26 fakultas kedokteran dan rumah sakit pendidikan sebagai tempat sub-center untuk screening dan penanganan pasien Corona," terangnya.

BACA JUGA: COVID-19 di Jakarta: Bertambah 53 Pasien Baru, Total 256 Kasus

Plt. Dirjen Pendidikan Tinggi, Kemendikbud, Nizam mengatakan, bahwa dalam perekrutan relawan mahasiswa ini, Kemendikbud bekerja sama dengan sejumlah pihak pendidikan dan kesehatan. Diantaranya, Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI), Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI), Asosiasi Institusi Profesi Ners Indonesia (AIPNI), Asosiasi Institusi Pendidikan Tinggi Kesehatan Masyarakat Indonesia (AIPTKMI), dan Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia (AFDOKGI). "Relawan mahasiswa ini nantinya memiliki tugas untuk komunikasi, informasi dan edukasi. Misalnya, di pusat panggilan, penelusuran, pemeriksaan, dan lainnya," kata Nizam. Nizam menjelaskan, bahwa nantinya relawan yang bergerak pada non medis tidak menangani pasien secara langsung. Namun, bagi relawan medis dan harus berhubungan dengan orang yang diduga terjangkit Covid-19. "Setiap relawan yang terjun ke lapangan wajib memakai Alat Pelindung Diri (APD)," ujarnya. Kriteria relawan yakni dalam keadaan sehat, tidak merokok, siap untuk berkomitmen dan bertanggung jawab disertai surat izin dari keluarga (wali/pasangan). . Adapun kompetensi relawan yang dibutuhkan, kata Nizar, yakni tenaga medis, tenaga kesehatan, dokter internship, mahasiswa kesehatan, dan lainnya. Pendaftaran dapat dilakukan melalui tautan http://bit.ly/RelawanKemdikbud. Selain itu, lanjut Nizar, Kemendikbud juga sudah menyiapkan asrama yang berada di naungan kementeriannya, untuk ruang karantina pasien Corona (Covid-19). Baik itu Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) maupun Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK) yang bisa dijadikan asrama karantina Orang Dalam Pengawasan (ODP) maupun Pasien Dalam Pengawasan (PDP) diseluruh Indonesia. "Kami menyiapkan seluruh fasilitas asrama di bawah Kemendikbud. Kapasitas tempat tidur dari P4TK dan LPMP tersebut sebanyak 18.000 tempat tidur," pungkasnya. (der/fin)

Sumber: