Ini Alasan Jokowi Tidak Mau Lockdown

Ini Alasan Jokowi Tidak Mau Lockdown

JAKARTA–Berbeda dengan sejumlah Negara yang menerapkan lockdown dalam menghadapi COVID-19, ternyata Indonesia hingga saat ini belum melakukan hal yang sama. Indonesia masih terbuka dengan beberapa syarat tertentu. Di Istana Negara, Presiden Joko Widodo mengungkapkan alasan mengapa ia tidak memilih lockdown seperti negara-negara lain untuk mengatasi penyebaran COVID-19. "Kemudian ada yang bertanya kenapa kebijakan lockdown tidak kita lakukan. Perlu saya sampaikan setiap negara memiliki karakter, budaya, kedisplinan yang berbeda-beda, oleh itu kita tidak memilih jalan itu," kata presiden yang akrab disapa dengan sebutan Jokowi itu. Itu disampaikan Jokowi dalam rapat terbatas dengan tema "Pengarahan Presiden kepada Para Gubernur Menghadapi Pandemik Covid-19" melalui konferensi video bersama dengan Wakil Presiden, Ma'ruf Amin, para menteri Kabinet Indonesia Maju dan 34 gubernur se-Indonesia. Inilah rapat konferensi video pemerintah pusat dengan semua kepala daerah se-Indonesia secara lengkap untuk mengentaskan wabah Covid-19. "Sudah saya pelajari, saya memiliki analisis-analisis seperti itu dari semua negara, saya memiliki semuanya, kebijakannya seperti apa, semua dari Kementerian Luar Negeri, dari duta besar-duta besar yang ada terus kita pantau setiap hari," kata dia. Menurut Jokowi, yang paling tepat diterapkan di Indonesia adalah menjaga jarak fisik antar individu atau yang dikenal dengan physical distancing. "Jadi yang paling pas di negara kita physical distancing menjaga jarak aman. Kalau hal itu bisa kita lakukan, saya yakin kita bisa mencegah penyebaran COVID-19 ini," kata dia. "Tetapi membutuhkan sebuah kedisplinan yang kuat, ketegasan yang kuat, jangan sampai yang sudah diisolasi, saya baca sebuah berita, masih membantu tetangganya yang mau hajatan. Ada yang sudah diisiolasi masih beli handphone dan belanja di pasar. Kedisplinan untuk mengisolasi yang penting, partial isolated, mengisolasi sebuah RW, mengisolasi sebuah kelurahan penting tapi betul-betul dengan kedisplinan yang kuat. Kalau ini bisa dilakukan saya yakini skenario yang kita pilih bisa menghasilkan hasil yang baik," kata dia. Hingga Senin (23/3), terdapat 579 kasus positif COVID-19 di Indonesia dengan 500 orang dalam perawatan, 30 orang sembuh dan 49 orang meninggal. (wsa/fin/ant)

Sumber: