Sepak Bola Dunia Harus Direformasi

Sepak Bola Dunia Harus Direformasi

ZURICH - Pandemi global virus corona atau Cofid-19 telah membuat dunia sepak bola mengalami krisis besar yang belum pernah terjadi sebelumnya. Hal itu memaksa kompetisi berhenti untuk sementara. Klub-klub pun menjadi korban karena harus menanggung beban gaji para pemain. Para klub sepak bola saat ini tidak mendapatkan penghasilan karena kompetisi berhenti. Demikian juga dengan operator liga di seluruh dunia yang tengah mengalami kerugian besar. Kerugian itu terjadi lantaran mereka tak bisa menyelesaikan kontrak hak siar maupun kontrak lainnya dengan para sponsor. Untuk mengatasi segala persoalan tersebut, presiden FIFA Gianni Infantino mengusulkan agar dunia sepak bola melakukan sebuah reformasi. Menurut Ifantino, hal itu penting dilakukan untuk menyelematkan industri sepak bola dunia saat ini. Pria 49 tahun itu menyebut, harus ada pengurangan jumlah skuat di setiap tim serta mengurangi jumlah laga di setiap liga. Meski, ia menilai bahwa itu merupakan sebuah langkah mundur, namun cara tersebut bisa efektif membantu dunia sepak bola keluar dari masa sulit. "Mungkin kita bisa mereformasi dunia sepak bola meski harus mengambil langkah mundur. Ada kebutuhan untuk mengevaluasi dampak (virus corona) secara global. Mari kita semua menyelamatkan sepak bola dari krisis," kata Infantino dalam wawancara dengan media Italia Gazetta dello Sport. Menurut Ifantino, dengan jumlah skuat tim yang lebih sedikit, tapi akan lebih seimbang. Lebih sedikit laga, kata Ifantino, maka persaingan juga akan lebih kompetitif untuk keselamatan para pemain. "Ini bukan fiksi ilmiah, mari kita diskusikan bersama," tuturnya. Kompetisi sepak bola di dunia memang tengah ditangguhkan akibat wabah virus corona, termasuk liga-liga papan atas Eropa seperti Liga Premier, La Liga dan Serie A. Hal itu membuat klub-klub menderita karena tak ada lagi pemasukan sementara harus menanggung beban gaji para pemain. Opsi pemotongan gaji terhadap para pemain pun dilakukan oleh sejumlah klub di Eropa. Langkah itu sebagai upaya menyelamatkan klub-klub dari krisis keuangan yang lebih parah di kemudian hari. (heq/fin)

Sumber: