Jokowi Dinilai Cerdas tak Terapkan Lockdown, Kepanikan di India Bisa jadi Pelajaran

Jokowi Dinilai Cerdas tak Terapkan Lockdown, Kepanikan di India  Bisa jadi Pelajaran

JAKARTA- Pegiat media sosial, Denny Siregar mengaku bersyukur bahwa Presiden Joko (Jokowi) Widodo tidak melakukan lockdown meskipun didesak berbagai pihak. Denny Siregar mengatakan, Jokowi mempunyai perhitungan yang cermat akan dampak ekonomi ketika diberlakukan lockdown. "Saya bersyukur, meski didesak dari mana-mana Jokowi tidak frontal menerapkan konsep lockdown. Dia berhitung dgn cermat dampak ekonomi dan sosialnya, meski diejek sebagai pemimpin tidak tegas," tulis Denny Siregar melalui akun twitternya, dikutip Senin (30/3). Dia mengatakan, kasus India bisa menjadi contohnya. Bahwa bagaimana situasi di sana menjadi bumerang ketika otoritas India menerapkan lockdown. "Kasus India bisa jadi pelajaran, bagaimana lockdown jadi bumerang." Kata dia. "Pelan-pelan terbuka, bahwa langkah Jokowi dengan tidak menerapkan lockdown adalah langkah yang cerdas. Meskipun banyak orang yang mengejeknya." Ujar Denny Siregar dr Tirta adalah salah satu relawan pencegahan virus corona yang paling getol meneriakkan lockdown. Denny Siregar memaklumi itu sebab menurutnya dia hanya melihat pada satu sisi. Yakni pencegahan wabah virus. "Saya maklum ketika seorang dokter teriak lockdown Indonesia. Karena sebagai dokter dia hanya lihat dari 1 sisi saja, yaitu sebaran virus." Ujar Denny Siregar. "Tapi jadi Presiden itu beda. Dia harus lihat banyak sisi mulai virus, ekonomi sampai sosial. Itulah kenapa ada orang yang jadi dokter dan ada yang jadi Presiden." Pungkas dia. Sekedar diketahui, India saat ini mengalami situasi kacau ketika otoritas di sana menerapkan lockdown selama 21 hari. Jutaan warga miskin yang kesulitan, terpaksa melakukan migrasi besar-besaran dengan berjalan kaki ke tempat yang dianggap aman. Perdana Menteri India Narendra Modi meminta maaf atas kebijakan itu. “Saya meminta maaf kepada rakyatku semua, khususnya warga miskin. Ini tidak seperti yang kami bayangkan,” ujarnya dalam siaran radio setempat, Minggu (29/3). India mengalami kepanikan mssal. Di New Delhi, beberapa bus masih beroperasi tapi mereka wajib mendapat izin pemerintah untuk mengambil penuimpang. Di tempat lain, polisi dan paramiliter menghentikan kendaraan pribadi yang melintas antar negara bagian. (dal/fin).

Sumber: