Puncak Tekanan Ekonomi RI Diprediksi Hingga Kuartal II/2020

Puncak Tekanan Ekonomi RI Diprediksi Hingga Kuartal II/2020

JAKARTA - Ekonomi Indonesia diperkirakan bakal mulai membaik pada kuartal II/2020 ini. Syaratnya, bila pemerintah melakukan langkah-langkah yang ketat untuk menekan merebaknya wabah ini sebagaiman yang dilakukan pemerintah Cina. Oleh karena itu, Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia memprediksi puncak tekanan ekonomi diperkirakan akan terjadi pada kuartal II/2020, dan setelah kuartal III/2020 dan IV/2020 akan masuk masa pemulihan. "Maka, dengan skenario paling otimis tersebut, CORE Indonesia memprediksikan ekonomi Indonesia secara kumulatif tumbuh di kisaran -2 persen hingga 2 persen," ujar Direktur Eksekutif Center of Reform of Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal dalam keterangan persnya, kemarin (29/3).

BACA JUGA: Jika Indonesia tak Lockdown, 70.000 Orang Bisa Terinfeksi di Pertengahan April

Akan tetapi, lanjut dia, kondisi yang lebih buruk dapat terjadi jika penyebaran Covid-19 di Indonesia berlangsung lebih dari dua kuartal dan negara-negara yang menjadi mitra utama ekspor Indonesia juga mengalami hal serupa. "Nah, dalam kondisi tersebut, tekanan permintaan domestik dan global akan lebih lama, sehingga sangat kecil peluang ekonomi akan tumbuh positif," katanya lagi. Selain melemahkan pertumbuhan ekonomi, menurut dia, pandemi ini juga berpotensi mendorong peningkatann angka pengangguran dan kemiskinan. Hal ini sangat dimungkinkan mengingat jumlah penduduk di sekitar garis kemiskinan yang masih sangat tinggi, meskipun persentase penduduk di bawah garis kemiskinan mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Catatan dia, per Maret 2019, penduduk golongan rentan miskin dan hampir miskin di Indonesia mencapai 66,7 juta orang, atau hampir tiga kali lipat jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan. Sebagian besar dari golongan ini bekerja di sektor informal, termasuk yang mengandalkan upah harian. "Apabila penanganan pandemi berlangsung lama, periode pembatasan dan penurunan mobilitas orang akan semakin panjang. Akibatnya, golongan rentan miskin dan hampir miskin yang bekerja di sektor informal dan mengandalkan upah harian akan sangat mudah kehilangan mata pencaharian dan jatuh ke bawah garis kemiskinan," tutur dia. Dia memberikan solusi, untuk menopang penopang pertumbuhan ekonomi pada 2020 hanyalah dari belanja pemerintah. Penanganan Covid-19 mendorong pemerintah untuk bekerja all out dengan mengeluarkan berbagai paket kebijakan kuratif dan preventif.

BACA JUGA: Sejumlah Rumah Sakit Italia Beralih ke Masker Snorkeling

"Stimulus fiskal dengan opsi pelebaran defisit anggaran melebihi yang batas yang ditetapkan undang-undang keuangan negara diperlukan, dan juga moneter, perlu mencontoh otoritas moneter beberapa negara yang aktif terjun memberikan insentif, khususnya ketika kebijakan suku bunga acuan dan beragam kebijakan konvensional tidak bekerja secara optimal seperti saat ini," papar dia. Terpisah, peneliti dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Ariyo Irhamna mengatakan, memiliki dua skenario, untuk skenario pertama diperkirakan pertumbuhan ekonomi sebesar 3,8 persen. "Kami yang paling pesimis karena pemerintah tidak memiliki kredibilitas dalam menangani Covid-19. Sudah hampir satu bulan dan yang positif sudah lebih 1.000 kasus sejak kasus pertama tapi tidak ada kebijakan yang tegas, hanya himbauan physical discancing," ujar dia kepada Fajar Indonesia Network (FIN), Minggu (29/3). Untuk skenario kedua, prediksi INDEF Indonesia akan terjadi krisis ekonomi apabila pemerintah tak melakukan penanganan yang cepat, dan tepat, yakni melakukan kebijakan lockdown atau karantina wilayah. "Ini akan terjadi krisis kalau penanganan Covid-19 ini akan seperti ini (business as usual), semakin lama (3-6 bulan) pemerintah tidak lockdown, maka krisis akan semakin cepat datang dan semakin dalam dan recovery akan lama," pungkas dia. Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2020 bisa melambat ke 0 persen pada skenario terburuk. Sementara pada skenario moderat, perekonomian Indonesia masih bisa tumbuh di atas 4 persen.(din/fin)

Sumber: