Ratusan Buruh Di-PHK

Ratusan Buruh Di-PHK

SLAWI - Dampak penyebaran Covid-19 membuat ratusan buruh yang ada di Kabupaten Tegal di-PHK. Pemutusan hubungan kerja tersebut terjadi pada perusahaan yang selama ini mengandalkan pasokan bahan baku produksi dari Tiongkok dan Amerika yang sempat menjadi pandemi virus corona. Kepala Disperinaker Muhammad Nur Ma'mun SH MHum melalui Kabid Hubungan Industrial dan Jamsosnaker Nurhadi menyatakan bahwa selama sepekan ke depan. Pihaknya akan terus melakukan pemantauan dan pembinaan dampak Covid-19 di semua perusahaan yang ada di Kabupaten Tegal. "Pemantauan kami bagi dalam 5 tim, kemudian hasilnya dilaporkan langsung kepada bupati setiap hari. PT SAI Garmen di Kecamatan Warureja, menghentikan operasional pabrik sejak 24 Maret 2020 sampai batas waktu yang tidak ditentukan," ujarnya, Rabu (1/4). Pabrik tersebut terkendala pengadaan bahan baku yang didatangkan dari Tiongkok. Sementara harus menjual produk jadinya ke Amerika. Ada 600 pekerja yang harus dirumahkandemi pertimbangan pemberian upah. Di pabrik tersebut sempat dibentuk Forum LKS. Diharapkan, ada kesepakatan pemberian upah meski tidak penuh untuk buruh yang dirumahkan berdasarkan hasil kesepakatan kedua belah pihak. Sementara di PT Skecht Tegal Electronik yang berlokasi di Desa Kagok, Kecamatan Slawi. Melakukan PHK kepada 243 karyawannya dengan memberikan kompensasi pesangon. Hal ini dilakukan lantaran hampir 80 persen bahan baku materialproduksi berasal dari Tiongkok. Pabrik perakitan ponsel itu total mempunyai karyawan sebanyak 654. Dan 243 karyawan yang di-PHK semuanya sudah mendapatkan kompensasi dari perusahaan. Pemutusan Hubungan Kerja juga dilakukan Sumsing Internasional yang berada di Kecamatan Margasari. Pabrik yang memproduksi bulu mata palsu itu harus mem-PHK 233 karyawanya dengan memberikan kompensasi secara langsung. Perusahaan terkendala untuk mendapatkan bahan baku dari India dan memasarkan produknya ke Tiongkok. Sementara di perusahaanPT Gunung SlametSlawi, harus merumahkan 1 karyawan karena yang bersangkutan berstatus Orang Dalam Pengawasan (ODP). Setelah yang bersangkutan melakukan perjalanan ke Jakarta dalam rangka menjemput saudaranya yang pulang dari Korea Selatan. “Di perusahaan teh tersebut juga terjadi penurunan kapasitas produksi sebanyak 30 persen. Akibat arus distribusi barang yang tidak lancar. Karena daerah pemasaran mengalami social distancing. (her/gun)

DAPATKAN UPDATE BERITA FIN LAINNYA DI Google News


admin

Tentang Penulis

Sumber: