Dokter Periang Suka Menolong Meninggal Terpapar Corona dari Pasien

Dokter Periang Suka Menolong Meninggal Terpapar Corona dari Pasien

MAKASSAR- Kemarin, dokter spesialis THT di Makassar, dr Bernadette AF Tuwanakotta, SpTHT-KL meninggal dunia karena virus korona, Sabtu, 4 April. Ia merupakan Pasien Dalam Pemantauan (PDP) yang meninggal setelah terpapar Covid-19 dari pasien yang telah diperiksanya. Hal itu dikuatkan karena selama ini, dia tidak pernah meninggalkan Makassar dan sehari-harinya sibuk dengan kegiatan praktiknya di RS Bhayangkara dan RS Awal Bros. Humas IDI Makassar, dr Wachyudi Muchsin, mengungkapkan, status PDP yang diterima dr Bernadette, sudah sejak seminggu lalu. Ia diintubasi di Rumah Sakit Awal Bros, kemudian dirujuk ke RSUP Dr Wahidin Sudirohusodo. Dia diduga terpapar dari pasien yang telah diperiksanya yang tidak mengaku ada tanda Covid-19. Sang pasien hanya mengaku sakit biasa, sehingga saat diperiksa dr Bernadette tidak menggunakan APD (alat pelindung diri). "Parah pi baru (pasien) mengaku. Dan dokter sudah terjangkit (korona). Makanya kami mengimbau agar masyarakat yang terjangkit jangan malu. Karena ini bukan aib, jujurlah biar tidak terjangkit kepada orang lain. Bisa selamat dan ditangani lebih cepat," kata dr Wachyudi. Terpisah, Ketua IDI Makassar, dr Siswanto Wahab SpKK, mengungkapkan, dr Bernadette adalah sosok dokter yang periang. Mudah berbaur, apalagi jika menghadiri acara terkait institusinya. Hal yang paling melekat dengan dokter alumnus Fakultas Kedokteran Universitas 1986 ini yakni suka menolong pasien yang kurang mampu. Membantunya tanpa meminta imbalan, dan selalu ikut kegiatan sosial. "Dia sangat periang, suka menolong. Kami sangat berduka dengan kepergian beliau," ungkapnya. dr Siswanto pun memberikan imbauan kepada para dokter di tengah pandemik korona ini agar selalu mengutamakan keselamatan dengan mengurangi waktu jam praktik. Termasuk, membatasi pasien, selalu menggunakan APD, serta tidak melakukan kontak langsung dengan pasien jika tidak perlu. "Apalagi bagi dokter yang mempunyai riwayat penyakit kronis seperti diabetes, jantung, dan auto imun. Sebaiknya tidak berpraktik dahulu," ujarnya. Karumkit Bhayangkara, Kombes Pol dr Farid Amansyah turut merasa kehilangan sosok dr Bernadette. Soal keuletan bekerja, ia tak pernah telat. "Kami sangat merasa kehilangan. Karena beliau salah satu dokter terbaik di RS Bhayangkara. Beliau bekerja sesuai dengan jadwal. Saya sangat senang dengannya. Karena dia bertanggung jawab," kata dr Farid. Selain itu dr Bernadet dikenal sangat mudah diajak komunikasi. "Terakhir beliau berpraktik pada 18 Maret lalu. Ia berkeinginan membuat bagian THT RS Bhayangkara menjadi lebih besar dan lengkap. Alhamdulillah sudah lengkap. Peralatan canggih sudah ada. Keinginan beliau sudah kita penuhi," ungkapnya. *Sesuai Aturan Sesuai aturan, jenazah dr Bernadette dimakamkan sesuai prototap yang berlaku. Tanpa keluarga tercinta, ia menuju ke tempat peristirahatan terakhirnya di Pekuburan Komunitas Tionghoa di Samata, Kabupaten Gowa. Pantauan FAJAR, di rumah duka di Jl Pelita Raya Tengah A3C, kediaman Bernadette tampak sepi. Tak ada keramaian layaknya acara kematian pada umumnya yang dihadiri keluarga, kerabat, maupun tetangga.(ica-ans-ism-edo-rin/yuk-ham)

DAPATKAN UPDATE BERITA FIN LAINNYA DI Google News


admin

Tentang Penulis

Sumber: