Jangan Tolak Jenazah Covid-19 !

Jangan Tolak Jenazah Covid-19 !

JOGJAKARTA - Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada Prof Tri Wibawa mengatakan, masyarakat seharusnya tidak perlu bereaksi berlebihan saat menghadapi jenazah pasien yang meninggal akibat virus korona apalagi menolak pemakamannya. Menurutnya, masyarakat tidak ada alasan untuk menolak jenazah pengidap Covid-19 karena rumah sakit telah menangani jenazah sesuai panduan medis yang memastikan keamanannya. Salah satunya jenazah dibungkus plastik atau kantong jenazah yang tidak mudah tembus. "Dengan menjalani semua prosedur pemakaman jenazah Covid-19, sesuai guideline dari Kemenkes, Kemenag, dan MUI, maka tidak akan menimbulkan penularan. Semestinya tidak ada penolakan,"terangnya dilansir dari siaran resmi UGM, kemarin. Pria yang juga pakar mikrobiologi ini menjelaskan, ketika jenazah telah dibungkus dan dikubur maka virus akan ikut mati. "Saat orang meninggal, selnya mati sehingga virus di dalamnya tidak akan berkembang. Sifat virus dalam jenazah sama dengan virus yang ada di tanah, lantai, maupun barang yang akan mati dalam jangka waktu tertentu," bebernya. Tri Wibawa menyebutkan resiko penularan jenazah positif Covid-19 ke manusia akan minimal apabila seluruh langkah pemulasaran dilakukan sesuai pedoman penanganan yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan. Antara lain, petugas kesehatan memakai APD saat pemulasaran jenazah, jenazah harus terbungkus seluruhnya dalam kantong jenazah yang tidak mudah tembus sebelum dipindahkan ke kamar jenazah. "Syaratnya, jangan sampai ada kebocoran cairan tubuh yang mencemari bagian luar kantong jenazah, dan sesegera mungkin memindahkan ke kamar jenazah," terangnya. Berikutnya, jika keluarga pasien ingin melihat jenazah diizinkan sebelum dimasukan ke kantong jenazah dengan syarat memakai APD. Jenazah tidak boleh disuntik pengawet atau balsem, jenazah yang sudah dibungkus tidak boleh dibuka lagi. Kemudian, jenazah hendaknya diantar dengan mobil jenazah khusus, dan sebaiknya jenazah tidak lebih dari empat jam disemayamkan di pemulasaran jenazah. "Agar semua terlaksana dengan baik, petugas juga harus memberikan penjelasan ke pihak keluarga terkait penanganan khusus yang meninggal karena penyakit menular dan memperhatikan sensitivitas agama, budaya, dan adat istiadat," ujarnya."Perlakuan yang sama juga diperuntukan bagi jenazah berstatus PDP yang hasil pemeriksaan laboratorium Covid-19 belum keluar," tambahnya. Lebih lanjut, Tri kembali mengimbau masyarakat untuk tidak panik dan menolak jenazah pasien Covid-19. Sebab, jenazah telah dibungkus plastik atau kantong jenazah kedap udara sehingga tidak akan ada virus yang menyebar keluar. Dengan perlakuan tersebut jika ada cairan yang keluar dari tubuh jenazah akan tetap berada di dalam kantong jenazah. "Jadi, kami imbau masyarakat agar tidak panik petugas kesehatan telah memperlakukan jenazah pasien Covid-19 sesuai protokol. Jenazah telah dibungkus sedemikian rupa agar tidak bocor dan dijamin keamanannya,"paparnya. Setali tiga uang, Ketua Health Promoting University(HPU) Fakultas Peternakan UGM Nanung Danar Dono menuturkan, penolakan tidak semestinya terjadi. Masyarakat seyogianya tidak boleh ada penolakan pemakaman pasien yang meninggal dengan diagnosis apapun. "Yang terjadi adalah ketakutan yang berlebihan. Padahal, pemerintah sudah ada protokol kesehatan yang menjamin keamanan dengan risiko penularan yang sangat kecil dari jenazah pasien Covid 19 ,"katanya. Sementara itu secara agama, penolakan pemakaman jenazah juga tidak dibenarkan dengan alasan apapun. Demikian pula dalam agama Islam, jenazah harus diperlakukan dengan baik dan dikubur dengan penghormatan serta penghargaan. Dalam syariat Islam pemakaman jenazah termasuk fardu kifayah. Apabila tidak dijalankan atau tidak ada yang mau melakukan maka semua akan berdosa. "Hak muslim yang sudah meninggal harus dimandikan, dikafani, dishalatkan, dan dimakamkan. Jadi, kalau menolak pemakaman itu tidak benar secara syariat Islam,"tandas pria yang juga Direktur Halal Center Fakultas Peternakan UGM itu. (fin/tgr)

DAPATKAN UPDATE BERITA FIN LAINNYA DI Google News


admin

Tentang Penulis

Sumber: