Dana Khusus Riset Corona Harus Dipersiapkan

Dana Khusus Riset Corona Harus Dipersiapkan

JAKARTA - Pemerintah melalui Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) dinilai perlu mengalokasikan dana khusus riset dan inovasi guna penanganan wabah virus corona (covid-19). Peneliti muda Indonesia Berry Juliandi mengatakan, bahwa sektor riset dan inovasi dianggap tak kalah penting dalam memerangi pandemi covid-19. "Kemenristek/BRIN (Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional) bisa membuat kajian usulan adanya dana khusus," kata Berry, Kamis (16/4). Berry menilai, program skema kolaborasi riset-inovasi diaspora Indonesia yang digagas Kemenristek, belum cukup. Menurutnya, dukungan lebih terhadap sektor riset dan inovasi dibutuhkan guna ikut mengatasi pandemi. "Kami berharap lebih, yaitu justru top up dari dana pemerintah khusus untuk menangani covid-19," ujarnya. Menurut Berry, Kemenristek/BRIN seharusnya menjadi komando utama seluruh riset yang ada di Indonesia. Termasuk, riset tentang kesehatan. Dengan begitu, masalah birokrasi bisa lebih dipermudah. Utamanya, yang berkaitan dengan sampel, atau akses data. "Jika Kemenristek BRIN bukan komando utama, karena berbagai hal kesehatan, kedokteran, seperti sampel, akses data dan lain-lain, ini terkadang masih business as usual seperti sebelum terjadi covid-19," tuturnya. Menanggapi itu, Kemenristek/BRIN menjelaskan, bahwa proses pencocokan ilmuwan diaspora dan peneliti Indonesia tak mudah lantaran harus punya minat dan objek penelitian yang sama. Kendati demikian, pihaknya siap memfasilitasi ilmuwan diaspora dalam mencari partner peneliti di Indonesia. "Para diaspora kesulitan mencari partner, kami bersedia jadi 'mak comblang' mencarikan partner. Banyak orang (peneliti) Indonesia tertarik," kata Pelaksana tugas staf ahli bidang infrastruktur Kemenristek/BRIN, Ali Ghufron Mukti. Sementara itu, Ketua Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4) Muhammad Aziz menyampaikan sudah banyak peneliti Indonesia yang berkomunikasi dengan ilmuwan diaspora. Aziz mengaku, tengah mendata pula diaspora yang tertarik ambil bagian dalam program kolaborasi riset dan inovasi yang digagas Kemenristek/BRIN itu. "Kami di I-4 mencoba list siapa saja diaspora yang tertarik terlibat dalam hal ini, sekarang masih ada percobaan untuk matching," ujarnya. Menurut Aziz, implementasi program skema kolaborasi riset-inovasi masih butuh waktu. Selain punya minat penelitian dalam bidang yang sama, kolaborasi riset diaspora dan peneliti Indonesia butuh rasa saling percaya. "Satu sisi kerjasama diaspora butuh trust. Di satu sisi, kami diaspora, resource yang kami punyai, tahu topic interest itu seperti apa, masih meraba ini butuh proses matching," tuturnya. Dapat disampaikan, Kemenristek/BRIN meluncurkan program skema kolaborasi riset-inovasi diaspora Indonesia. Program ini berupa program pendanaan penelitian bagi ilmuwan diaspora, utamanya yang melakukan penelitian tentang penanganan pandemi virus korona (covid-19) di Tanah Air. Setiap proposal dalam program ini akan mendapat suntikan dana Rp2 miliar per tahun dengan durasi tiga tahun. Dana riset ini berasal dari pendanaan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), serta dikelola Dana Ilmu Pengetahuan Indonesia (DIPI) yang bekerja sama dengan Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Kemenristek/BRIN. (der/fin)

DAPATKAN UPDATE BERITA FIN LAINNYA DI Google News


admin

Tentang Penulis

Sumber: