Kematian Global Covid-19 Capai 150.000 Jiwa

Kematian Global Covid-19 Capai 150.000 Jiwa

WASHIGTON- Kematian akibat virus corona secara global melonjak sebanyak 154,311 jiwa pada Sabtu (18/4). Kematian terus meningkat di Amerika Serikat dan negara-negara di Eropa Barat. Lebih dari separuh umat manusia- 4,5 miliar orang- dipaksa untuk tetap berada di rumah guna memutuskan penyebaran Covid-19. Sementara itu, terdapat lebih dari 2,2 juta kasus positif Covid-19 secara global. Dikutip AFP, angka-angka kasus tersebut mungkin hanya mencerminkan sebagian kecil dari jumlah sebenarnya infeksi Corona di dunia, sebab banyak negara hanya menguji kasus yang paling serius. Sebagai contoh, sebuah penelitian baru di Stanford University yang menguji penduduk antibodi virus menunjukkan bahwa jumlah sebenarnya dari infeksi COVID-19 setidaknya 50 kali lebih tinggi daripada angka resmi. Dalam sehari, jumlah kematian yang dikonfirmasi di seluruh dunia bisa mencapai 8.800 jiwa. Amerika Serikat telah mencatat 36.773, Italia 22.745, Spanyol 19.478 dan Prancis 18.681. Afrika melaporkan kematiannya yang ke 1.000 pada hari Jumat. Saat ini sebanyak 193 negara di dunia termasuk Indonesia tengah menghadapi kegelisahan, mencari cara menghentikan penyebaran virus dan mengembalikan keterpurukan Ekonomi. Cina telah menyatakan Covid-19 mereda di Wuhan. Namun pada Jumat lonjakan kasus kematian di Wuhan kembali terjadi sebanyak 1.290 jiwa atau sebesar 50.0 persen. Total kematian di Cina saat ini sebesar 3.869 kasus. Presiden Amerika Serikat, terus melempar kritikannya terhadap organisasi kesehatan dunia WHO dan Cina. Trump menuding jumlah kasus di Cina tidak transparan. "(jumlah kasus) Jauh lebih tinggi dari itu dan jauh lebih tinggi dari A.S., bahkan tidak dekat!" ujar Trump lewat twitternya. Trump tidak menyertakan bukti atas pernyataannya, tetapi Beijing ditekankan untuk berterus terang atas penangan kasus Covid-19 di Negara Komunis itu. Media AS melaporkan bahwa, ada kecurigaan yang mengatakan virus itu bukan berasal dari pasar basah di Kota Wuhan-Cina, seperti yang diklaim pertama kali. Tetapi dari sebuah fasilitas penelitian virus yang berada Wuhan. Pihak Beijing membalas asumsi liar itu pada Jumat pagi. Mereka membantah atas sejumlah tuduhan Amerika. "Tidak pernah ada penyembunyian, dan kami tidak akan pernah membiarkan penyembunyian," kata juru bicara kementerian luar negeri Cina Zhao Lijian. Zhao menegaskan bahwa WHO telah melakukan penyelidikan dan menyatakan tidak ada bukti nyata yang mengindikasikan bahwa Covid-19 dibuat di laboratorium China. "Dirjen WHO telah berulang kali menyatakan bahwa belum ada bukti yang menunjukkan bahwa virus itu dibuat di laboratorium," kata Zhao. (dal/fin).

DAPATKAN UPDATE BERITA FIN LAINNYA DI Google News


admin

Tentang Penulis

Sumber: